. wisecorner

وقفة مع روضة من رياض الجنة

07 Februari 2011



حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ عَنْ يَحْيَى عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ حَدَّثَنِي خُبَيْبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ وَمِنْبَرِي عَلَى حَوْضِي

Telah menceritakan kepada kami Musaddad dari Yahya dari 'Ubaidullah bin 'Umar berkata, telah menceritakan kepada saya Khubaib bin 'Abdurrahman dari Hafsh bin 'Ashim dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Diantara rumahku dan mimbarku adalah raudhah (taman) diantara taman-taman surga dan mimbarku berada pada telagaku (di surga) ". (HR. Bukhari-Muslim dan imam lainnya)

Sementara dalam riwayat yang lain mengatakan “antara kuburanku dan mimbarku adalah taman diantara taman-taman surga”. Ulama kita menjelaskan bahwa lafadz kedua ini adalah bentuk mukjizat Rasulullah karena beliau tahu dimana tempat beliau meninggal dan dimakamkan. Adapun makna Raudhah dalam hadits di atas sebagian ulama kita memahami secara dzahirnya yang berarti taman itu yang akan diangkat ke surga pada hari kemudian sebagian yang lain berpendapat bahwa amalan yang dikerjakan di Raudhah baik berupa shalat, dzikir, bacaan Qur’an dan amalan lainnya adalah pengantar menuju surga Allah.

Hari itu rencananya mau mengikuti kelas tahfidz-nya Ablaha Husniyah, tapi setelah ditunggu-tunggu ternyata beliau tidak datang-datang. Mba Alqi pun mengajak saya ke Raudhah.


Dari referensi yang pernah saya baca, panjang Raudhah 22 meter dan lebarnya 15 meter. Ditandai dengan karpet yang berwarna hijau. Raudhah lokasinya di bagian jamaah laki-laki dan hanya dibuka (untuk jamaah perempuan dengan cara memasang pembatas di sepanjang jalan menuju Raudhah) pada waktu pagi hingga dzuhur dan setelah isya. Raudhah tak pernah sepi dari jamaah yang ingin shalat, berdzikir ataupun membaca Al-Qur’an. Bahkan hari itu kami berdesak-desakkan dengan jamaah perempuan lainnya. Cukup sulit mencari tempat untuk shalat, saya sendiri ketika shalat merasakan bagian kepala saya dilangkahi beberapa kali. Tapi, Alhamdulillah alaa kulli hal, sangat bersyukur bisa diberi kesempatan untuk shalat dan berdoa di Raudhah. Semoga Allah memperkenankan doa-doa saya. Amiin. Tidak boleh terlalu berlama-lama sebab petugas keamanan di situ akan menyuruh kita untuk beranjak agar jamaah yang lain juga bisa shalat dan berdoa di Raudhah.

Sunnah ketika kita memasuki area Raudhah adalah mengucapkan salam kepada Rasulullah, kemudian kepada Abu Bakar Ash Shiddiq, kemudian kepada Umar bin Khattab. Berharap bisa shalat dan berdoa lagi di Raudhah di lain kesempatan. Amiin

Sabtu, Rabiul Awal 1432H

note: gambarnya boleh up load di mbah google soalnya kalo foto langsung bisa kena tegur petugasnya lagian sama zauji ga dibolehin foto-foto.

Read more ...

Catatan perjalanan: Umrah pertamaku (bag.1)

05 Februari 2011

Mekkah, 24 Safar 1432H

Manasik Umrah

Alhamdulillah, akhirnya bisa umrah juga bersama zauji yang akan menjadi guide saya ketika umrah nanti. Beberapa hari sebelum umrah, saya diajari manasik umrah dulu sama zauji. Pada saat manasik, zauji menjelaskan hal-hal seputar umrah. Mulai dari hukum umrah yaitu sunnah muakkadah meskipun ulama lain mewajibkannya sebagaimana haji (baca QS. 2 : 196). Kemudian hal-hal yang dilarang selama ihram. Ada larangan yang berlaku umum ada larangan khusus buat pasangan laki-laki dan peremupuan. Larangan yang berlaku umum diantaranya tidak dibolehkan memakai wangi-wangian, tidak boleh mencabut rambut/bulu yang ada di tubuh, tidak boleh membunuh binatang buruan, tidak boleh berjima’ dan hal-hal yang mengantarkan kepada berjima’, tidak boleh menggunting kuku, tidak boleh berdebat. Larangan yang berlaku khusua bagi laki-laki diantaranya tidak boleh memakai pakaian berjahit, tidak boleh menutup kepala dengan benda apapun yang bersentuhan langsung dengan kepala. Larangan khusus untuk perempuan diantaranya tidak boleh memakai cadar dan kaos tangan. So..yang sebelumnya pake cadar tidak perlu khawatir, sebab ada jenis penutup wajah yang 2 in 1 (istilah saya ini) bisa jadi cadar dan bisa juga jadi purdah yang menutup langsung dari ubun-ubun. Setelah itu, zauji menjelaskan tatacara (rukun) umrah yaitu tawaf (sebanyak 7 kali putaran) dan sa’i (sebanyak 7 kali bolak-balik shafa-marwah) juga sunnah-sunnah selama umrah nanti. Yang terakhir yaitu tahallul yang merupakan wajib umrah. Tahallul itu mencukur botak (yang lebih dianjurkan) atau sekedar memendekkan rambut (taqshir) bagi laki-laki dan bagi perempuan memotong ujung rambut seukuran 1 ruas jari. MasyaAllah...baru manasiknya aja hati ini rasanya sudah bahagia gimana gtuuu...belum pas umrahnya nanti. Subhanallah....

Akhirnya hari yang dinanti tiba juga....

Hari itu hari sabtu, kami berangkat dari rumah sebelum ashar agar bisa shalat ashar dulu di Masjid Nabawi sebelum berangkat ke Mekkah. Setelah shalat ashar, kami berjalan kaki ke terminal bus, cukup jauh juga...but kata zauji sekalian latihan jalan biar nanti ga kagok pas umrahnya. It’s ok, zauji. Akhirnya kami tiba di terminal bus, bus yang akan kami tumpangi yaitu bus dari PT. Saptco, perusahaan bus yang bekerja sama dengan semua universitas negeri yang ada di Saudi dan memberikan diskon (50% dari harga tiket aslinya) kepada semua mahasiswa di universitas-universitas tsb. Jadi untuk pulang-pergi kemarin total biaya yang kami keluarkan sebesar 150 SAR (1 SAR = Rp 2400 – 2500). Bus yang akan kami tumpangi berangkat pukul 17.30, karna masih setengah jam, maka kami duduk-duduk di ruang tunggu sambil nonton TV yang ketika itu menyiarkan berita kerusuhan di Kairo, Mesir. Yah..semoga saja saudara/i kita disana dilindungi oleh Allah. Amiin. Bus yang akan kami tumpangi nanti ini ukurannya cukup besar, berAC, tanpa musik dan menurut zauji selama menumpangi bus ini, para supirnya tidak pernah ngebut. Supir bus kali ini adalah orang Mesir. Ada juga orang Indo, kebanyakan dari Jawa Barat. Beberapa menit sebelum jam keberangkatan, kami naik ke bus. Penumpang yang berkeluarga diberikan jatah kursi di depan sedang yang single duduknya di bagian belakang, seperti itulah kebiasaan di Saudi, memisahkan yang berkelurga dengan yang single demi sebuah privasi. Saya suka sekali. Seperti waktu kami makan malam di Resto Abu Khalid (di sekitar Nabawi), ada sekat-sekat yang dibuat khusus untuk costumer yang makan bersama keluarganya. Jadi kita bisa membuka cadar kita dan menikmati lezatnya makanan. Hehehehe. Sekiranya di Indo juga seperti itu.

Pukul 17.30, bus yang kami tumpangi berangkat menuju Mekkah. Kursi tepat di belakang saya di isi oleh sepasang anak laki-laki kembar asal Mesir (punya logat yang khas) sekitar 7 tahunan, menggemaskan. Ternyata mereka dan ibunya yang duduk di kursi seberang juga akan umrah. Bus mulai keluar dari terminal, di kejauhan nampak gugusan pegunungan Uhud yang membentang panjang. Jadi teringat kisah Perang Uhud (3 Hijriyyah). Lagi-lagi rasa haru menyeruak. Subhanallah..ternyata sekarang gunung yang sangat terkenal itu yang menjadi saksi gugurnya 70 syuhada tidak hanya ada dalam khayalan saya, tapi sudah ada di depan mata saya. Cuma perjalanan menuju Mekkah tidak melewati Uhud, jadi kali ini hanya bisa melihat lewat kaca bus yang gede itu. Mudah-mudahan lain kali bisa diajak jalan-jalan kesana sama zauji.

Kira-kira setelah 10 menit berjalan, bus yang kami tumpangi singgah di daerah yang bernama Dzulhulaifah atau yang lebih dikenal dengan Bir Ali tempat miqat-nya orang-orang yang tinggal/yang melewatinya (bukan penduduk Madinah) untuk berhaji atau berumrah. Disinilah laki-laki yang hendak haji atau umrah mengganti pakaiannya dengan kain umrah (2 buah, dililitkan di bagian pinggang dan di sampirkan di bagian dada dan bahu) dan untuk perempuan mengganti cadarnya dengan purdah juga melepas kaos tangannya. Rada canggung juga sih pake purdahnya karna ini yang pertama kali. Kebetulan juga tidak bawa kacamata, jadi penglihatannya cukup kabur. Supaya ga salah jalan, tangan saya digandeng sama zauji. Singgahnya pas maghrib, jadi setelah berganti pakaian kami shalat dan siap-siap untuk berangkat kembali. Ternyata bukan kami saja yang hendak umrah, selain 2 anak kembar bersama ibunya ada juga beberapa mahasiswa dari jamiah (yang duduk di belakang) juga seorang bapak yang juga akan berumrah hari itu. Saat bus sudah mulai bergerak zauji mengingatkan saya untuk melafazkan niat umrah yaitu “labbaika umratan” yang mana ketika niat tersebut sudah terlafazkan, maka berlakulah larangan-larangan selama ihram sampai setelah tahallul nanti.

Jarak antara Madinah-Mekkah yaitu 450 KM yang insyaAllah akan ditempuh selama 6 jam. Selama perjalanan menuju Mekkah orang-orang yang akan berhaji atau berumrah disunnahkan untuk memperbanyak talbiyah, “labbaikaallahummalabbaik labbaikalaasyarikalakalabbaik innalhamdawannikmatalakawalmulk laasyarikalak”. Kalo sudah capek boleh tidur, karna perjalananya cukup panjang. Kalo lapar dan haus boleh makan-minum. Karna kami berangkatnya sore, maka selama perjalanan kami hanya dapat menikmati gelapnya malam dengan hiasan berjuta kerlip bintang di langit.

to be continued....

Read more ...

Karena Menikah Bukan Alasan

03 Februari 2011

Wanita mana yang tidak ingin menikah? Saya rasa tidak ada. Meski wanita tersebut seorang aktivis dakwah sekalipun (aktivis dakwah juga manusia, punya rasa punya hati^_^). Karna menikah adalah salah satu kebutuhan hidup dan lebih dari itu menikah adalah langkah seseorang untuk menggenapkan setengah dien-nya. Tapi ada perbedaan visi- misi pernikahan antara seorang aktivis dakwah dengan wanita pada umumnya. Mulai dari awal (H minus jauh sekali dari hari H), masa-masa mendekati hari H (prewedding-nya) hingga pertanggungjawabannya nanti di hadapan Allah. Mulai dari syarat buat si calon imam (ga neko-neko, hanya: beriman, beragama Islam, berakal, sudah baligh tentunya, sangat di harapkan seorang aktivis dakwah yang sefikrah), prosesnya (lewat ta’aruf (biodata dan foto ter-up date) yang diprakarsai oleh murabbi/yah kedua belah pihak bukan lewat perantara si fulan atau si fulanah masalahnya ini masalah tanggung jawab kedepannya, kemudian kalo cocok dibuatlah pertemuan untuk nadzhar yang lagi-lagi harus diperantarai oleh murabbi/yah kedua belah pihak dan dibatasi oleh hijab. Pada pertemuan tsb ikhwa dan akhwat yang berhajat dibolehkan untuk melihat wujud calon pasangannya (kebanyakan akhwat-nya pada malu-malu jadinya ga sempat lihat tapi tetap berhusnudzon), selanjutnya jika keduanya merasa cocok maka akan berlanjut ke proses khitbah. Selanjutnya kita yang notabene hari ini adalah seorang aktivis dakwah akan memperjuangkan visi-misi dkknya tsb dalam sebuah proposal walimah syar’i (pake hijab, pengantin dan tamu-tamunya dipisah antara pria dan wanita, tak ada alunan musik, misal electone yang ada hanya nasyid itupun tanpa musik). Ribet? Menurut saya tidak, sebab yang akan kita jalani kedepannya bukan sesuatu yang main-main dan kebaikan yang kita harapkan selalu menyertai kehidupan setelah menikah tentunya harus diawali dengan proses yang baik pula agar awal yang baik akan berjalan dan berakhir dengan baik pula.

Lalu kenapa setelah menikah kita malah berpikir dua kali untuk tetap berada di jalan dakwah?

Untuk membagi waktu antara dakwah, berbakti kepada suami, kepada orang tua, memenuhi hak-hak anak-anak kita, saudara/i kita (meski harus mengorbankan kepentingan orang-orang yang kita cintai karena Allah dan dakwah kepadaNya yang lebih kita cintai).

Untuk tetap berpayah-payah dalam sebuah kerja dakwah meski saudari-saudari kita pun akan memaklumi kondisi kita yang telah memiliki suami sehingga ada sedikit rukhshah bagi kita.

Untuk tetap mencurahkan pikiran, waktu, harta, tenaga juga apa-apa yang kesemuanya itu adalah kepunyaanNya yang diamanahkan kepada kita. Termasuk seorang suami yang shaleh pendamping kita hari ini. Tidak takut kah kita jika Allah berkehendak mengambil nikmat tsb karna Allah menilai kita tidak mensyukuri nikmat tsb. Naudzubillahimindzalik.

Padahal sebelumnya kita punya himmah 'aliyah bahwa dengan pernikahan itu kita berharap bisa tetap istiqomah bahkan lebih sebab sudah ada partner dalam menempuh perjalanan panjang ini yang dengannya kita bisa saling mengingatkan satu sama lain.

Padahal sebelumnya ditengah-tengah perjuangan dan permohonan panjang kita padaNya agar dipertemukan dengan lelaki shaleh, kita berazam untuk tetap kukuh berdiri dan berjalan dengan semangat yang lebih sebab setelah pernikahan tersebut segalanya akan menjadi lebih baik.

Lalu kenapa kita seakan lupa dengan semua itu?

Terlenakah kita dengan bahagianya pernikahan?

Terlenakah kita dengan istilah dunia serasa milik berdua yang lain cuma ngontrak? Terlenakah kita sehingga kaki kita berat untuk beranjak dari peraduan menuju medan dakwah?

Atau kita sudah merasa tersibukkan dengan amanah baru kita sebagai seorang istri? Jika seperti itu bagaimana keadaan ummahat-ummahat yang sampai hari ini tetap eksis di dunia dakwah dengan anak yang tidak cuma 1, 2,...5, bahkan lebih dari itu. Tidak malukah kita dengan mereka? Yang bahkan seorang ummahat 4 anak pernah dikonsentrasikan atas nama dakwah oleh suaminya agar sang ummahat bisa fokus mengurusi ummat..subhanallah. Seharusnya kita malu pada mereka.

Atau kita merasa pernikahan kita adalah akhir dari perjuangan kita di jalan dakwah? Akhir karna kita sudah berhasil mendapatkan apa yang kita idam-idamkan selama ini? Kalo seperti itu, mari kita memuhasabah niat kita untuk turut dalam kafilah dakwah.

Bukankah jodoh laki-laki shaleh yang kita dapatkan hari ini adalah karunia dari Allah atas apa-apa yang pernah kita usahakan (atas izinNya) diwaktu yang telah lewat?

Bukankah kebahagiaan yang kita rasakan adalah buah dari perjuangan kita (sebab hidayah dariNya) di jalan dakwah ini? Lantas kenapa kita seperti kacang lupa kulitnya?

Pernikahan seorang aktivis dakwah adalah pernikahan yang menyatukan dua pribadi yang tak pernah saling kenal secara intens sebelumnya (kenalannya lewat perantara orang yang dipercaya dalam hal ini murabbi/yah bukan hasil usaha sendiri atau lewat jejaring sosial dan diusahakan seminimal mungkin interaksi di antara keduanya). Pernikahan yang membuat kita semakin stabil menghadapi beragam tribulasi dakwah. Pernikahan yang bagi seorang aktivis bukanlah akhir dari sebuah perjuangan tetapi awal yang baru dari sebuah perjuangan panjang yang diharapkan akan berakhir di JannahNya. InsyaAllah.

Waffaqanallahu jami’an.

Bersama zauji, ba’da subuh di penghujung Safar 1432 H

Read more ...

SMS gratis!

Klik di sini!
free counters