. wisecorner: teman sejati
Tampilkan postingan dengan label teman sejati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teman sejati. Tampilkan semua postingan

(lagi) Tentang Cinta....

12 Agustus 2011



cinta itu...
tak hanya merah merona
semburat bahagia
sehidup-semati
kasih-kekasih
cerita indah namun tiada arti
canda
tawa
kebebasan
....


tapi cinta itu...
juga untaian nasehat
pengorbanan
jatuh-bangun
airmata
peluh
luka
marahmu
teguranmu
delikan matamu
....


layaknya potongan gambar 'cinta' itu
beragam pola
berwarna-warni
tak cuma 1
dan kata lagi-lagi tak mampu merincinya
namun hanya bertolak dan berlabuh pada yang 1
yang kekal
yang tak pernah habis cintaNya
Allah 'Azza wa Jalla




*ukhuwahfillah till JannahNya...aamiin.
Read more ...

Lelaki itu....

05 Juli 2011
Lelaki itu...
Lahir dan besar ditengah keluarga yang sederhana
Tumbuh dan menjadi sosok laki-laki yang mandiri dan amanah ditengah keluarga yang penuh dengan cinta dan kasih sayang

Lelaki itu...
Untuk bisa menjadi dirinya yang sekarang
Butuh perjuangan
Butuh pengorbanan
Butuh kesabaran
Butuh airmata


Lelaki itu...
Lelaki yang sederhana bahkan sangat sederhana
Aku melihatnya seperti itu di awal perkenalan
Tak ada yang istimewa darinya dari segi penampilan
Biasa saja..bahkan terlalu biasa
Tapi darinya aku belajar banyak hal
kesabaran
kerendahan hati
kesederhanaan
kelapangan hati
bahwa ilmu agama itu luas dan tak pantas menyalahkan seseorang karena mengambil dalil yang berbeda dengan kita
bahwa makna cinta itu sulit terurai dalam untaian kata layaknya kosa kata bahasa Arab yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia
tapi cinta itu bukti nyata bukan sekedar kata
itu aku pahami darinya


Lelaki itu...
Suamiku kini hingga kelak di surgaNya (aamiin)
Lelaki itu...
Bagai seorang kakak, sahabat, murabbi bagiku
Lelaki itu...
Aku bahagia, sangat bahagia
Aku bersyukur, sangat bersyukur
Tak pernah sedikitpun terbersit dalam angan mendambakan pedamping hidup sepertinya
Seorang hafidz
Cukup tahu diri saja diri ini
Terlalu tinggi rasanya
Namun takdirNya berkata lain
Namaku dan namanya telah tertulis rapi di Lauh Mahfudz


Akad nikah dan walimatul urs :
Dewi Sartika bintu Zainudiin Gani, S. Ked
dan
Muhammad Basran bin Muhammad Yusuf
Ahad, 09 Agustus 2009


Lelaki itu...
Adanya menjadi penyemangat dalam menuntut ilmu, beramal, berdakwah dan bersabar
Adanya menjadi partner dalam mengarungi jalan panjang penuh liku berhias onak dan duri
Hadirnya menjadi pelipur lara
Hadirnya adalah jawaban pintaku padaNya
Balasan atas ujianNya padaku
Anugerah terindah dari sekian banyak anugerah yang telah dihadiahkanNya kepadaku


Bersamanya...
Lelaki itu...
menjadikan dakwah sebagai nafas
yang akan terhenti jika nafas kamipun tak berhembus lagi
Bersamanya...
meniti jalan cinta para pejuang dakwah





*----------------------------------------------------------------------------------------------*
Madinah, Sya'ban 1432H
090809-090811
Hampir dua tahun kini (insyaAllah)
Semoga senantiasa dikumpulkan dalam ketaatan kepadaNya (aamiin)
Read more ...

Untukmu, Wahai Para Muharrikah Dakwah Kesehatan


Entah sejak kapan ghirah dakwah di ranah ini mulai berkorbar
Entah siapa yang mengawali jejak langkah di jalan ini
Entah dimana ianya berawal yang pastinya kini kitalah para penerusnya, akhwat!


Kitalah pemegang tongkat estafet yang akan berlanjut demi sebuah regenerasi dakwah kesehatan tempat dimana kita berpijak saat ini
Kitalah para pelanjut yang diharapkan dapat mewarnai sekitar kita dengan warna Islam yang haq


Tak inginkah kita turut mengukir kerja sebagai bagian dari perjuangan menegakkan syari'at Islam di ranah ini, ranah kesehatan?
Tak inginkah kita melihat mereka yang sakit menjadi sehat tidak hanya jasmani saja akan tetapi ruhiyahnya pun turut?
Tak inginkah kita menjadi muharrikah dakwah yang juga profesional dalam bidang kita?
menjadi dokter muslimah, apoteker muslimah, analis kesehatan muslimah, sarjana kesehatan muslimah, bidan muslimah, perawat muslimah...yah semuanya yang terkait dengan disiplin ilmu kita hari ini


Bukan hal yang niscaya bagi kita untuk turut dalam kafilah dakwah
Bukan sesuatu yang mustahil jika kita ingin menjadi bagian dari sejarah kejayaan Islam kelak meski raga telah tiada


Qum!
Bangunlah, wahai muharrikah dakwah kesehatan!
Bergeraklah!
Mari satukan langkah!
Jangan hanya bergelut, tersibukkan dengan dunia kita sendiri!
Makmurkanlah majelis-majelis ilmu syar'i!
Ejawantahkan dalam keseharian kita pelan tetapi pasti menuju kesempurnaan!
Tebarkan pesona dakwah sebagai bagian amar ma'ruf nahi mungkar!
Kemudian bersabarlah dalam setiap gerak perubahan


Setidaknya kita tidak tinggal diam
Sedikitnya kita telah menorehkan cerita dalam lembaran dakwah kesehatan
Meski tak seberapa
Meski tak jarang harus jatuh bangun mempertahankan hidayah yang begitu mahal harganya
mendekap erat setiap komitmen syar'i yang telah diyakini kebenarannya
Meski tak sedikit dari kita harus bersabar atas cibiran orang-orang terhadap hijab-hijab kita yang tak gaul lah, yang jadul lah, yang menggerahkan pandangan mereka
jangan luluh, jangan lemah, jangan gentar karena mereka
sebab mereka bukan siapa-siapa
Allah lebih berhak untuk kita takuti daripada mereka
Meski harus tertatih saat raga terasa lemah sedang amanah senantiasa menanti untuk dijamah


Tak perlu ciut nyali berjuang
Jadikan semua itu sebagai pelengkap yang adanya kian mendewasakan kita
menjadikan kita muslimah yang tak hanya profesional namun juga tangguh menghadapi ragam tribulasi kehidupan
bukankah Rasulullah dan generasi-generasi terbaik pun pernah mengecapnya?
yang dengannya Allah menjanjikan surga atas mereka
tak inginkah segala daya jua upaya kita hari ini pun berujung pada surgaNya kelak?


Tetaplah berazam demi kemuliaan Islam
Tetaplah bergerak
Tetaplah berkarya
Tetaplah berjuang
Hingga mata tak lagi menatap semburat warna jingga saat senja berpamitan pada malam
Hingga nafas tak lagi berhembus; jantung tak lagi berdetak
Hingga ruh tak lagi bersemayam dalam jasad kaku
Hingga terlelap dalam tidur panjang bersama ridhoNya




(Madinah, Rajab-Sya'ban 1432H)

Read more ...

‘Coz Ur Never Alone, Sister...

09 April 2011

Pernah merasa sendiri di tengah keramaian?
Merasa terkucilkan, tak dianggap, tak didengar, diacuhkan oleh orang-orang di sekeliling kita?
Merasa asing diantara hiruk pikuk kehidupan dunia?
Merasa ditinggalkan oleh orang-orang yg kita harapkan senantiasa menemani?
Dan semua deskripsi rasa kehampaan hidup di dunia yg fana ini.
Di antara kita mungkin ada yg pernah merasakan atau bahkan mungkin sering merasakannya.


Bagaimana rasanya jika semua ekspresi kehampaan itu tanpa iman sebagai perisai ?
Akankah keistiqomahan tetap menjadi pilihan hingga takdirNya menyapa ?
Sungguh tidak mudah menjaga keistiqomahan atas pilihan iman di zaman seperti ini.
Saat rasa iman semakin tawar dan hambar
Saat penopang-penopangnya semakin sulit ditemukan
Dan disaat lingkungan semakin tak mendukung.
Adakah yang tetap teguh dalam kesendirian yang sering mencekam?
Meski dalam keramaian? Terkucilkan. Merasa asing. Yang adapun enggan menemani.


Tapi semua itu tak masalah jika kita memilikiNya, yang senantiasa ada disaat kapanpun kita membutuhkanNya, tanpa kenal lelah dan pamrih.
Dia selalu ada bersama kita meski wujudNya tak nyata dalam tatapan kita saat ini.
Senantiasa menemani, meski yg lain berbalik meninggalkan kita.
Begitu dekat melebihi dekatnya urat nadi kita.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”

(QS. 50 : 16)



Biarkan saja yg lain meninggalkan kita, tak usah risau, toh semuanya pun pada akhirnya akan pergi meninggalkan kita atau kita yg pergi meninggalkan mereka, asal kita selalu bersamaNya yang tak pernah sedetikpun meninggalkan kita selamanya.
Sebab Dia tak pernah membiarkan kita berjalan sendiri.
Sebab Dia akan memberi ganti teman seperjalanan yang saling mencintai karenaNya.
Sebab Dia selalu ada utk semua hamba-hambaNya.
‘Coz Ur Never Alone, Sister...

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

(QS. 2 : 186)




Jazaakillah khair kepada seorang saudarifillah yg telah melengkapi catatan ini.

Pagi yg dingin tak jauh dari bentangan gunung Uhud, Jumadil Awal 1432H
Read more ...

Bahagianya Merayakan Cinta

14 Februari 2011
HidayahNya tlh mngantarkn diri ini pd satu titik balik

Sbuah pjalanan hjrah tlh mnanti tuk dtapaki

Meski penuh liku,terjal,tak smulus jln tol hgg hrus jatuh kmd bangkit lalu jatuh dan bangkit lagi smpai saat kmbli ke haribaanNya

Walau hrus mjadi yg minor diantara yg mayor ah tak mengapa asal diri tak jauh dariNya,asal hati tak kering akan cinta,takut juga harap padaNya

Meski hrus ttatih bjalan,bpeluh keringat,bcucur airmata,blapang dlm cinta padaNya sbb diri ini jg mrk hanyalah manusia yg tak makshum bagai kekasihNya

Sggh smuanya tak sbandingdgn blsan dmi blsan cintaNya pdku

Tak sbanding dgn ap yg pnh aku korbankn djalanNya

Ah sbnrnya malu utk mngatasnamaknnya dgn pngorbanan

Sbb smuanya pun adlh kpunyaanNya yg dtitipknNya padaku

Jadi shrusnya aku malu padaNya

Hrusnya kepala ini tak mampu mdongak dgn mata yg menatap tanpa kedip mnantang keMaha-anNya ktk ujian dmi ujian akrab mnyapa hari,bulan bhkn tahun hgg mrasa hdp di dunia ini sdh tak ad guna

Hrusnya diri ini yg bnyk bmuhasabah ktk hdup trasa berat tak pnh sdktpun bpihak,bkn menyalahkn org lain shgg dr ini spt ini,bkn mkambinghtmkn saudari sndiri krn stiap kburukn yg mnimpa tjadi krn ulah dr sndiri,bkn mfitnah mrk yg sharusnya bjalan bsama mcari kridhoanNya mnuju JannahNya,bkn pula mgadaikn hidayah yg tak gmpang dberiknNya dgn mjauh,mnutup buku pjuangan bsampul ukhuwah,mciptakn jurang pmisah,hgg bpaling dari kasihNya yg Maha Luas

Allah itu Maha Adil wahai diri yg fakir. Maha Pngasih lg Maha Pnyayang. Jgn pnh bputus asa akn RahmatNya. Jgn pnh mcari jln lain tuk bebas dari labirin kdukaan hdup yg mdominasi

Mintalah,mk akn Dia beri

Lirihkn suara,agar ddngar olehNya

Kumpulkn smw lembar-lembar ksabaran agar hati lapang mnanti jawabn pinta smpai phujungnya

Lalu tsnyumlah mnatap indahnya hdup stlh badainya mreda menyisakn pelangi warna warni dsudut hati

Kini bahagia bkn hanya dlm bunga-bunga tdur yg snantiasa bmekaran dlm pelukn malam

Bahagiaku jg bahagiamu,kekasihku

Bahagia merayakan cinta dariNya bsamamu dan jundi-jundi kami, kini hgg nanti di JannahNya




(Utk Zauji tcinta yg akn slalu ad dsisi pdamping hdp plipur lara juga 'anak-anak' An Naas 14 yg jauh dmata tp slalu dkat dhati Ummi kalian anugrah t'indah yg Allah titipkn smg qta dpt dptmukn kmbli dlm taman-taman syurgaNya)

Hari ke-9 Muharram 1432H

Read more ...

Catatan perjalanan: Umrah pertamaku (bag.3 tamat)

10 Februari 2011
Saat sa’i....

Wanita yang tidak dalam keadaan suci tetap diperbolehkan melakukan sa’i sebab tempat sa’i asalnya bukan di dalam Masjid Haram (meskipun saat ini sudah menjadi 1 bangunan tetapi tetap terpisah). Sama halnya dengan tawaf, sa’i juga dilakukan sebanyak 7 kali. Awal sa’i dimulai dari bukit Shafa. Tetapi sebelum sampai ke Shafa, kita disunnahkan untuk membaca : “inna shafa wal marwata minsyaairillah”. Setelah itu kita memulai perjalanan ke Marwah. Bagi laki-laki, ditengah perjalanan ke Marwah nanti (atau sebaliknya) ada bagian dimana mereka disunnahkan untuk berlari-lari kecil. Bagian itu ditandai oleh lampu berwarna hijau di bagian atas. Ga jauh, kira-kira hanya 30 meter saja setelah itu berjalan seperti biasa. Pada saat sampai di bukit Marwah sambil menghadap ke arah Ka’bah (kalo susah untuk melihat dimana posisi Ka’bah ikuti saja arah posisi tegel yang kita injak, sebab posisi tegelnya memang sengaja dibuat menghadap ke posisi Ka’bah) kita disunnahkan untuk membaca doa : “Allahu Akbar 3x Laa ilahailallah wahdahulaasyariikalah lahulmulku walahulhamdu wahuwa’alakullisyaiinqadiir. Lailahailallahuwahdah shadaqawa’dah wanashaara’abeda wahazamalahzabawahdah” sebanyak 3x dan ini merupakan sunnah bukan boleh berdoa apa saja setelahnya. Dan semua amalan umrah bila diisi dengan dzikir dan doa, maka lebih afdhal dengan tetap menjaga doa dan dzikir yang telah ditetapkan oleh Rasulullah pada waktu dan tempat tertentu. Setelah berdoa, kemudian kita melanjutkan perjalanan ke bukit Shafa. Pada saat sampai di bukit Shafa, kita kemudian berdoa sebagaimana saat berada di bukit Marwah tadi sambil menghadap Ka’bah. Begitu seterusnya sampai hitungan ke 7. Kalo dalam sa’i kita merasa capek, boleh duduk-duduk sebentar di samping area sa’i sambil minum air zam-zam. Selama melakukan sa’i dari Shafa-Marwah atau sebaliknya, disunnahkan memperbanyak dzikir, membaca doa dan membaca Al-Qur’an. Putaran sa’i berakhir di bukit Marwah dan kita tidak disunnahkan berdoa lagi. Setelah itu boleh keluar dari pintu-pintu yang ada disamping kanan area sa’i (dari Marwah ke Shafa) menuju Masjid Haram.

Tahallul....

Kami selesai melakukan sa’i sekitar pukul 03.00 dini hari. Setelah melakukan sa’i, kegiatan selanjutnya adalah melakukan tahallul yang merupakan wajib umrah. Tahallul itu mencukur botak (yang lebih dianjurkan) atau sekedar memendekkan rambut (taqshir) bagi laki-laki dan bagi perempuan memotong ujung rambut seukuran 1 ruas jari. Untuk laki-laki, cukurnya di salon yang banyak terdapat di sekitar area Masjid Haram. Saya tahallulnya di kamar hotel setelah kami check in di sebuah hotel di sekitar Masjid Haram. Setelah tahallul, itu pertanda kita sudah tidak dalam keadaan berihram lagi sehingga tidak terikat lagi dengan larangan-larangan selama berihram.

Saatnya pulang....

Beberapa jam sebelum dzuhur kami sempatkan jalan-jalan ke Tower Waqaf Malik Abdul Aziz Aalu Su’ud (Tower Zam-zam) tempat di mana jam terbesar di dunia bertengger di puncak gedung tsb. Kami hanya semalam saja di Mekkah, sorenya pukul 15.00 kami sudah check out. Sambil nunggu masuknya waktu ashar, kami duduk-duduk di depan hotel Daarut Tauhid tepat di depan teras Masjid Haram. Saat itu ramai sekali. Manusia yang hilir mudik juga burung-burung merpati yang begitu banyak berterbangan di sekitar langit Masjid Haram. Burung-burung Merpati itu jinak dan suka sekali diberi makan biji-bijian yang dijual sekitar halaman Masjid Haram.

Kurang lebih 15 menit kemudian adzan ashar berkumandang. Hampir semua orang pada berjalan menuju Masjid Haram. Ada yang masuk ke dalam masjid ada yang cuma di teras masjid. Sepuluh menit setelah adzan, qamatpun terdengar, kami segera mengambil shaf di teras masjid, sebab tas yang kami bawa cukup besar dan tidak diperbolehkan untuk dibawa masuk ke dalam masjid. Saya shalat tepat di samping zauji.

Setelah shalat, kamipun berjalan sebentar menuju terminal bus PT. Saptco. Ternyata bus yang kami naiki akan dikemudikan oleh orang Indo tepatnya orang Sunda. Tak lama setelah itu bus yang kami tumpangi bergerak meninggalkan kota Mekkah dengan semua kenangan tentang umrah pertamaku bersama zauji yang takkan terlupakan^_^. Berharap bisa diberi kesempatan untuk umrah lagi dan menunaikan haji tahun ini. Harapan yang sama juga buat semua saudari-saudariku (beserta keluarganya) agar dimudahkan oleh Allah untuk dapat melakukan umrah dan haji. Amiin yaa Rabbal Alamin.

Al Madinah Al Munawwarah, (selesai ditulis) Rabiul Awal 1432 H

note : gbrnya di up load dari mbah google dengan alasan yg sama :)

Read more ...

Catatan perjalanan: Umrah pertamaku (bag.2)

08 Februari 2011
Singgah sebentar....

Ditengah perjalanan kami singgah sebentar, kira-kira setengah jam untuk makan malam atau buang air atau shalat isya. Tapi kami memutuskan untuk makan saja, shalat isya nya nanti Masjid Haram. Makanan disini kebanyakan ayam dan daging, kalo ikan mahal. Malam itu kami makan Fahm (ayam bakar khas daerah Bukhori) + nasi (yang udah dibumbui, warnanya putih kekuningan). Cara makan orang di Saudi berbeda dengan orang Indo. Di sini makanan yang kami pesan tadi diletakkan dalam 1 nampan lonjong ukuran sedang (kalo orang Saudi yang makan sendiri bisa habis, kalo kita mesti berdua) yang dalam nampan lonjong tsb sdh ada nasi, Fahm, lombok hijau yang besar (orang Saudi kurang suka makanan pedas), potongan bawang merah (bawang merahnya besar mirip bawang bombay, dijadikan lalapan), dan potongan jeruk (kalo di Indo bilanganya jeruk nipis tapi di sini jeruknya warna kuning, besar dan kulitnya tebal, mirip sunkist tapi bukan) kemudian di bawah nampan tadi diberi alas plastik (sufra, hampir selalu ada kalo makan). Kami makannya di tempat khusus untuk keluarga yang di sediakan oleh math’am (rumah makan).

Memasuki Kota Mekkah....

Setelah perjalanan panjang, akhirnya kami sampai juga di perbatasan Kota Mekkah, daerah Tan’iim. Kota Mekkah termasuk kota yang ramai-nya pas malam hari (seperti kota-kota lain di Saudi) dan bergunung-gunung, sehingga banyak terowongan disini. Zauji menunjukkan sebuah masjid disebelah kanan jalan. Masjid ‘Aisyah namanya. Masjid inilah yang merupakan batas tanah haram dan salah satu miqat umrah bagi penduduk Mekkah yang berada di dalam batas tanah haram.

Beberapa meter sebelum tiba di Masjid Haram, saya sempat melihat jam raksasa menjulang tinggi. Jam terbesar di dunia ini berada diatas bangunan wakaf Raja Abdul Azis (tower Zam-zam). Subhanallah...saking indahnya saya tak dapat melukiskannya dengan kata-kata. Alhamdulillah...akhirnya kami pun tiba di pelataran parkir kendaraan yang juga merupakan terminal bus yang kami tumpangi. Subhanallah...saya langsung menatap 2 menara Masjid Haram yang menjulang tinggi. Lagi-lagi rasa haru menyeruak dalam hati meihat bangunan megah tempat Ka’bah didirikan. Zauji berkata sambil tersenyum, “Subhanallah...sekarang Ummi dah liat Masjid Haram secara langsung kan? Bukan cuma di TV pas tayangan shalat tarawih saja”. Iya...ini bukan di TV, ini bukan khayalan, ini bukan mimpi. Subhanallah...akhirnya saya bisa sampai juga di Tanah Suci Mekkah. Alhamdulillah..jazaakallahu, Abi.

Sama halnya dengan Masjid Nabawi, Masjid Haram juga dikelilingi oleh hotel-hotel bertingkat, resto (KFC juga ada lho) dan mall-mall. Hotel Hilton yang paling mewah disini yang juga punya cabang di Madinah. Setelahnya ada Hotel Daarut Tauhid yang bersebelahan dengan Hotel Hilton. Kedua hotel tersebut letaknya tepat di depan halaman Masjid Haram, mungkin inilah salah satu sebab kenapa hotel tersebut mahal.

Sebelum masuk masjid, kami terlebih dahulu menitipkan tas di jasa penitipan yang ada di halaman Masjid Haram. Biaya penitipannya 10 real/3 jam, kalo lebih dari 3 jam ada tambahannya per 1 jam, tapi saya tidak tahu berapa. Setelah itu zauji mengantarkan saya ke bangunan yang di dalamnya ada tempat wudhu (dan toilet) perempuan dan kami berjanji untuk bertemu di tempat tsb lagi setelah berwudhu. Tempat wudhu (dan toilet) letaknya di basement. Saat itu sedang ada pembersihan, jadi yang masuk bertahap.

Kami pun masuk ke dalam masjid, sandal yang kami pakai dilepas dan dimasukkan ke dalam plastik yang sudah disediakan di dalam masjid kemudian ditaruh di tempat sandal. Subhanallah...indah sekali arsitektur di dalam Masjid Haram. Sulit buat menggambarkannya dalam untaian kata. Jauh di depan sana terlihat bangunan kotak terbungkus kain hitam dengan sulaman benang emas, ya..itulah Ka’bah, kiblat kaum muslimin di seluruh dunia.

Di Masjid Haram, jamaah laki-laki dan perempuan tidak di pisah sebagaimana di Masjid Nabawi, jadi saya shalatnya tepat di samping zauji. Kami shalat isya 2 rakaat saja, sebab dalam kondisi safar. Setelah shalat, kami ngaso dulu sebentar buat persiapan tawaf. Setelah kira-kira 10 menit ngaso, kami berjalan menuju pusat Masjid Haram tempat Ka’bah berdiri.

Ketika tawaf....

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 12.00, tapi aktivitas di sekitar Ka’bah masih ramai. Rukun umrah yang pertama yaitu tawaf mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali putaran. Orang yang tawaf harus dalam keadaan suci.

Awal tawaf dan hitungan sekali putaran tawaf dimulai dari hajar aswad (tepat di depan hajar aswad/di lantai 2 Masjid Haram ada lampu penanda berwarna hijau yang fungsinya sebagai penanda bagi orang-orang yang sedang tawaf bahwa di bagian Ka’bah tsb terdapat hajar aswad, sebab jika ramai sekali hajar aswad tidak dpt terlihat, maka lampu berwarna hijau tsb-lah sebagai patokannya). Pada saat memulai tawaf (dari hajar aswad) dan setiap melewatinya kita disunnahkan menggangkat tangan kanan memberi isyarat ke arah hajar aswad sambil mengucapkan “Allahu Akbar” (seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah) setelah itu kita disunnahkan untuk banyak-banyak berdzikir dan berdoa. Tidak jauh dari hajar aswad ada maqam Ibrahim (tempat berdiri Nabi Ibrahim ketika membangun Ka’bah), kami singgah sebentar di situ untuk melihat lebih dekat maqam Ibrahim.

Setelah itu, kita akan melewati bagian luar hijr Ismail (bangunan setengah lingkaran tepat di sisi Ka’bah yang merupakan bagian dari Ka’bah, sehingga orang yang tawaf tidak boleh melewati bagian dalamnya, sebab tawaf yang dilakukannya bisa dianggap tidak sah karna hijr Ismail merupakan bagian dari Ka’bah). Di awal tawaf, kami ada di bagian paling luar dari pusaran tawaf, tapi lama kelamaan kami bisa lebih dekat dengan Ka’bah dan ketika sampai di rukun Yamani zauji berusaha agar saya juga bisa menyentuhkan tangan ke bagian Ka’bah yang di sebut rukun Yamani itu lantas tangan yang sudah menyentuh disunnakan untuk dicium. Dahulu Rasulullah juga seperti itu, namun beliau menggunakan tongkatnya untuk menyentuh rukun Yamani. MasyaAllah...wanginya tangan saya. Ternyata kiswah (kain penutup Ka’bah tersebut sangat-sangat wangi sekali). Setelah melewati rukun Yamani, kita disunnahkan untuk membaca doa kebaikan dunia akhirat, “Rabbana aatina fiddunya hasanah wa fiilakhiratihasanah waqina adzabannar”. Membaca doa tsb berulang kali hingga bertemu kembali dengan hajar aswad (di sudut berikutnya) dan ketika kita berada tepat di samping hajr aswad (atau tepat disamping lampu hijau yang ada di seberang sana) kita kembali menggangkat tangan kanan kita (mengarah ke hajr aswad) seraya mengucapkan takbir, maka selesai 1 putaran tawaf dan begitu seterusnya sampai 7 kali putaran. Di putaran yang terakhir, setelah sampai di sudut tempat hajr aswad, kita tidak lagi menggangkat tangan, tetapi langsung bergerak keluar dari pusaran tawaf. Yang tawaf beraneka ragam, mulai dari yang jalan kaki sampai yang di dorong pake rostu, mulai dari kakek/nenek, orang dewasa, para ABG, anak kecil sampai yang baru beberapa bulan lahir juga ikut tawaf (sambil digendong oleh bapaknya) juga beragam etnis di seluruh dunia. Pokoknya semuanya deh ada di sini!

Setelah tawaf kita disunnahkan untuk shalat sunnah 2 rakaat di area belakang maqam Ibrahim. Pada saat shalat, rakaat pertama setelah membaca Al Fatihah, kita sunnahkan membaca surah Al Kafirun dan dirakaat kedua disunnahkan membaca surah Al Ikhlas. Setelah shalat, kami masing-masing berdoa. Sebelum melanjutkan rukun umrah yang kedua, kami istirahat lagi sebentar karna rukun yang akan kami kerjakan nanti sedikit lebih berat dari tawaf, yaitu sa’i dari bukit shafa ke bukit marwah (jarak antara keduanya sekitar 300 - 400-an m). Tapi, sebelum melakukan sa’i nanti kita disunnahkan minum air zam-zam sambil berdiri.

to be continued....

note: gambar-gambarnya diambil dari image-nya mbah google..soalnya ga dibolehin foto-foto sama zauji:)

Read more ...

SMS gratis!

Klik di sini!
free counters