Rabu, 270509...Akhirnya...penggalan kisah tanpa judul itu berlanjut (masih ingat judul postingan "penggalan kisah tanpa judul"?)...^^
Akankah happy ending??? I wish my story will be continue...^^ only could pray..pray n pray...
.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian; kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat - menasehati supaya menetapi kesabaran”. (QS. Al `Ashr : 1-3)
Rabu, 270509...
Kelak, disuatu hari...
Kita semua akan dikumpulkan oleh Allah di Yaumul Hasyr...
Kita akan bertemu Rasulullah dan para sahabatnya serta Ummul Mukminin...
Kita akan bertemu para syuhada dan orang-orang shaleh sepanjang masa...
Kita akan bertemu dengan saudara-saudara kita dari Palestina, mujahidin Afghan, pejuang-pejuang Islam di Chechnya, Moro, Irak dan seluruh belahan dunia...
Kita akan berjumpa dengan anak-anak Palestina pelempar batu yang sangat ditakuti oleh Israel...
Kita akan bertemu dengan ibu-ibu Palestina yang tidak henti-hentinya melahirkan para mujahid...
Lantas Rasulullah pada hari itu akan sangat bangga pada ummatnya...
Lalu...bagaimana dengan kita ketika saat itu tiba...???
Tentu kita ingin ikut bersama rombongan Rasulullah...
Tetapi..mungkin kita akan malu...
Karena mereka kurang mengenali kita sebagai ummat Muhammad, sebab minimnya identitas dan tanda-tanda keislaman kita...
Terpikirkah tentang ini olehmu duhai sahabat?!
Kalau hari ini kau temui dirimu sebagai seorang muslimah pemalu, sebagai wanita-wanita mahal...
Jika hari ini kita memeluk tarbiyah dengan erat, lalu ada amanah bersama kita...
Jika hari ini kita adalah seorang aktivis, da'iah, para pelaku da'wah, penyeru kebaikan dan pengusung shahwah...
Jika kau jumpai dirimu sebagai seorang murabbiyah, seorang pemimpin..maka tersenyumlah dengan semua itu...
Berbanggalah karena mungkin dengan itulah mereka akan mengenali kita...
Rasulullah pun tersenyum pada kita, lalu mengajak 'tuk singgah di telaganya yang tenang..itulah telaga Al-Kautsar.....
Jazakillah khair saudariku...semoga Allah memudahkan segala urusanmu^^
Senyum….^_^
Perlukah satu sebab untuk menyunggingkan sebuah senyuman?
Meski di tengah kedukaan yang sangat….
Meski diri tengah bergulat dengan banyak masalah….
Meski hati bagai serpihan kaca....
Meski raga begitu lelah dengan aktivitasnya....
Meski airmata belum lagi kering....
Meski setelahnya belum tentu lebih baik dari sebelumnya....
Meski perlakuan pun perkataan kerap menyakiti hati....
Meski jiwa ini jenuh dengan dunia yang semakin hari semakin menyedikan
Buat aku, untuk tersenyum...tidak butuh satu alasan...
Sebab senyum adalah sedekah yang paling mudah....
Sebab senyum adalah penawar luka....
Sebab senyum adalah penghibur hati....
Sebab senyum adalah semangat baru untuk menatap masa depan....
Sebab senyum adalah aliran kesejukan darinya untukmu, saudariku....
Sebab senyumku karna Allah....
Bahkan dengan satu senyuman kita justru membutuhkan banyak kata untuk menterjemahkannya....percaya?^_^
Yang jelas...siapapun itu...nenek-nenek ompong sekalipun...kalo dah senyum...masyaAllah...hati rasanya gimanaaaa gtu....^_^
Itulah arti senyum buat aku...
Bagaimana dengan kamu???
Karena Cantik,Suatu malam di sebuah rumah, seorang anak usia tiga tahun sedang menyimak sebuah suara. "Ting...ting...ting! Ting...ting...ting!" Pikiran dan matanya menerawang ke isi rumah. Tapi, tak satu pun yang pas jadi jawaban.
"Itu suara pedagang bakso keliling, Nak!" suara sang ibu menangkap kebingungan anaknya. "Kenapa ia melakukan itu, Bu?" tanya sang anak polos. Sambil senyum, ibu itu menghampiri. "Itulah isyarat. Tukang bakso cuma ingin bilang, 'Aku ada di sekitar sini!" jawab si ibu lembut.
Beberapa jam setelah itu, anak kecil tadi lagi-lagi menyimak suara asing. Kali ini berbunyi beda. Persis seperti klakson kendaraan. "Teeet...teeet....teeet!"
Ia melongok lewat jendela. Sebuah gerobak dengan lampu petromak tampak didorong seseorang melewati jalan depan rumahnya. Lagi-lagi, anak kecil itu bingung. Apa maksud suara itu, padahal tak sesuatu pun yang menghalangi jalan. Kenapa mesti membunyikan klakson. Sember lagi!
"Anakku. Itu tukang sate ayam. Suara klakson itu isyarat. Ia pun cuma ingin mengatakan, 'Aku ada di dekatmu! Hampirilah!" ungkap sang ibu lagi-lagi menangkap kebingungan anaknya. "Kok ibu tahu?" kilah si anak lebih serius. Tangan sang ibu membelai lembut rambut anaknya.
"Nak, bukan cuma ibu yang tahu. Semua orang dewasa pun paham itu. Simak dan pahamilah. Kelak, kamu akan tahu isyarat-isyarat itu!" ucap si ibu penuh perhatian. **
Di antara kedewasaan melakoni hidup adalah kemampuan menangkap dan memahami isyarat, tanda, simbol, dan sejenisnya. Mungkin, itulah bahasa tingkat tinggi yang dianugerahi Allah buat makhluk yang bernama manusia.
Begitu efesien, begitu efektif. Tak perlu berteriak, tak perlu menerabas batas-batas etika; orang bisa paham maksud si pembicara. Cukup dengan berdehem 'ehm' misalnya, orang pun paham kalau di ruang yang tampak kosong itu masih ada yang tinggal.
Di pentas dunia ini, alam kerap menampakkan seribu satu isyarat. Gelombang laut yang tiba-tiba naik ke daratan, tanah yang bergetar kuat, cuaca yang tak lagi mau teratur, angin yang tiba-tiba mampu menerbangkan rumah, dan virus mematikan yang entah darimana sekonyong-konyong hinggap di kehidupan manusia.
Itulah bahasa tingkat tinggi yang cuma bisa dimengerti oleh mereka yang dewasa. Itulah isyarat Tuhan: "Aku selalu di dekatmu, kemana pun kau menjauh!"
Simak dan pahamilah. Agar, kita tidak seperti anak kecil yang cuma bisa bingung dan gelisah dengan kentingan tukang bakso dan klakson pedagang sate ayam.
(muhammadnuh@eramuslim.com)
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (QS. 3 : 185)
Suatu kali seorang teman bertanya kepada saya:
Kemarin malam hp ku berbunyi..ada sms masuk..sms dari murabbiyahku, Ummu Usamah. "Bagaimana kabar, Syifaa? Coass dibagian apa sekarang?" begitu isi smsnya. Tak terasa mata ini basah oleh airmata..dalam diam aku menangis..ada rasa kangen yang teramat yang begitu saja mengisi hati. "Assalamu'alaikum, Ummi..kangenku sama kita'. Mau crita sama kita'. Ummi, do'akan saya yah." itu pesan balasanku. Lantas beberapa menit kemudian hpku berbunyi lagi, sms balasan lagi dari Ummi.."Kapan Syifaa ada waktu? Ummi minta biodatanya yang lengkap." Dahiku berkerut, tapi senyum dibibir tak urung mengembang..hmmm..what's going on? tanyaku dalam hati. Bakal ada sesuatu yang mengejutkan kah? Sms Ummi tak kubalas..bingung..lho??
Tak ada yang abadi. Setiap yang hidup pasti akan mati, dengan cara apa pun itu sesuai dengan apa yang telah Sang Khalik gariskan bagi semua hamba-hambaNya. Maka tak ada manusia yang abadi. Walaupun dengan teknologi semodern apa pun untuk mengusahakan keabadian itu, hingga detik ini pun kelak hingga kiamat yang telah dipastikan akan datang, tak ada manusia yang abadi. Tak ada dan tak akan pernah ada.
Tak ada yang abadi. Hidup yang kita jalani seperti sebuah siklus yang senantiasa berulang dari hari ke hari. Meski berulang, tapi setiap aktivitas yang kita lakukan tak akan pernah abadi. Penyebabnya beragam, entah bosankah, ada aktivitas yang lebih urgent, tersita oleh aktivitas lain yang memakan banyak waktu, tergantikan oleh aktivitas lain yang lebih menarik, mungkin?, memberikan efek samping yang buruk buat diri kita, lupa (mungkinkah sesuatu yang rutin akan dilupakan?), atau dihentikan oleh sebuah kematian. Beragam kan?
Tak ada yang abadi. Pergantian siang dan malam. Metamorfosis seekor ulat menjadi kupu-kupu dengan sayap yang elok. Daun-daun yang berguguran satu demi satu. Dan suatu ketika cuaca boleh panas tapi dilain waktu, lihatlah tanah-tanah berdebu itu telah basah oleh hujan, seperti hari ini dan kemarin. Sebab tak ada yang abadi.
Seperti yang terjadi pada diri ini. Tak ada yang abadi. Mulai dari fisik yang berubah seiring berjalannya waktu, ruhiyah yang setiap detik bahkan bisa berubah, sifat yang melekat padanya, rasa yang mewarnai hati juga hari-harinya, pakaian yang menutupinya, orang-orang yang hilir mudik di sekitarnya, aktivitas yang dia lakukan pun yang berlaku atas dirinya, semuanya...tak ada yang abadi.
Yah...sadar ataupun tidak...apa yang kita inderai sejak dulu hingga tiba waktunya tak ada yang abadi. Kecuali Sang Pencipta, Allah 'Azza wa Jalla. Hanya Dia yang abadi sebab Dia-lah pemilik keabadiaan itu.
Rindu pada Rabbku..rindu yang berujung pada SyurgaNya