. wisecorner

Karena Menikah Bukan Alasan

03 Februari 2011

Wanita mana yang tidak ingin menikah? Saya rasa tidak ada. Meski wanita tersebut seorang aktivis dakwah sekalipun (aktivis dakwah juga manusia, punya rasa punya hati^_^). Karna menikah adalah salah satu kebutuhan hidup dan lebih dari itu menikah adalah langkah seseorang untuk menggenapkan setengah dien-nya. Tapi ada perbedaan visi- misi pernikahan antara seorang aktivis dakwah dengan wanita pada umumnya. Mulai dari awal (H minus jauh sekali dari hari H), masa-masa mendekati hari H (prewedding-nya) hingga pertanggungjawabannya nanti di hadapan Allah. Mulai dari syarat buat si calon imam (ga neko-neko, hanya: beriman, beragama Islam, berakal, sudah baligh tentunya, sangat di harapkan seorang aktivis dakwah yang sefikrah), prosesnya (lewat ta’aruf (biodata dan foto ter-up date) yang diprakarsai oleh murabbi/yah kedua belah pihak bukan lewat perantara si fulan atau si fulanah masalahnya ini masalah tanggung jawab kedepannya, kemudian kalo cocok dibuatlah pertemuan untuk nadzhar yang lagi-lagi harus diperantarai oleh murabbi/yah kedua belah pihak dan dibatasi oleh hijab. Pada pertemuan tsb ikhwa dan akhwat yang berhajat dibolehkan untuk melihat wujud calon pasangannya (kebanyakan akhwat-nya pada malu-malu jadinya ga sempat lihat tapi tetap berhusnudzon), selanjutnya jika keduanya merasa cocok maka akan berlanjut ke proses khitbah. Selanjutnya kita yang notabene hari ini adalah seorang aktivis dakwah akan memperjuangkan visi-misi dkknya tsb dalam sebuah proposal walimah syar’i (pake hijab, pengantin dan tamu-tamunya dipisah antara pria dan wanita, tak ada alunan musik, misal electone yang ada hanya nasyid itupun tanpa musik). Ribet? Menurut saya tidak, sebab yang akan kita jalani kedepannya bukan sesuatu yang main-main dan kebaikan yang kita harapkan selalu menyertai kehidupan setelah menikah tentunya harus diawali dengan proses yang baik pula agar awal yang baik akan berjalan dan berakhir dengan baik pula.

Lalu kenapa setelah menikah kita malah berpikir dua kali untuk tetap berada di jalan dakwah?

Untuk membagi waktu antara dakwah, berbakti kepada suami, kepada orang tua, memenuhi hak-hak anak-anak kita, saudara/i kita (meski harus mengorbankan kepentingan orang-orang yang kita cintai karena Allah dan dakwah kepadaNya yang lebih kita cintai).

Untuk tetap berpayah-payah dalam sebuah kerja dakwah meski saudari-saudari kita pun akan memaklumi kondisi kita yang telah memiliki suami sehingga ada sedikit rukhshah bagi kita.

Untuk tetap mencurahkan pikiran, waktu, harta, tenaga juga apa-apa yang kesemuanya itu adalah kepunyaanNya yang diamanahkan kepada kita. Termasuk seorang suami yang shaleh pendamping kita hari ini. Tidak takut kah kita jika Allah berkehendak mengambil nikmat tsb karna Allah menilai kita tidak mensyukuri nikmat tsb. Naudzubillahimindzalik.

Padahal sebelumnya kita punya himmah 'aliyah bahwa dengan pernikahan itu kita berharap bisa tetap istiqomah bahkan lebih sebab sudah ada partner dalam menempuh perjalanan panjang ini yang dengannya kita bisa saling mengingatkan satu sama lain.

Padahal sebelumnya ditengah-tengah perjuangan dan permohonan panjang kita padaNya agar dipertemukan dengan lelaki shaleh, kita berazam untuk tetap kukuh berdiri dan berjalan dengan semangat yang lebih sebab setelah pernikahan tersebut segalanya akan menjadi lebih baik.

Lalu kenapa kita seakan lupa dengan semua itu?

Terlenakah kita dengan bahagianya pernikahan?

Terlenakah kita dengan istilah dunia serasa milik berdua yang lain cuma ngontrak? Terlenakah kita sehingga kaki kita berat untuk beranjak dari peraduan menuju medan dakwah?

Atau kita sudah merasa tersibukkan dengan amanah baru kita sebagai seorang istri? Jika seperti itu bagaimana keadaan ummahat-ummahat yang sampai hari ini tetap eksis di dunia dakwah dengan anak yang tidak cuma 1, 2,...5, bahkan lebih dari itu. Tidak malukah kita dengan mereka? Yang bahkan seorang ummahat 4 anak pernah dikonsentrasikan atas nama dakwah oleh suaminya agar sang ummahat bisa fokus mengurusi ummat..subhanallah. Seharusnya kita malu pada mereka.

Atau kita merasa pernikahan kita adalah akhir dari perjuangan kita di jalan dakwah? Akhir karna kita sudah berhasil mendapatkan apa yang kita idam-idamkan selama ini? Kalo seperti itu, mari kita memuhasabah niat kita untuk turut dalam kafilah dakwah.

Bukankah jodoh laki-laki shaleh yang kita dapatkan hari ini adalah karunia dari Allah atas apa-apa yang pernah kita usahakan (atas izinNya) diwaktu yang telah lewat?

Bukankah kebahagiaan yang kita rasakan adalah buah dari perjuangan kita (sebab hidayah dariNya) di jalan dakwah ini? Lantas kenapa kita seperti kacang lupa kulitnya?

Pernikahan seorang aktivis dakwah adalah pernikahan yang menyatukan dua pribadi yang tak pernah saling kenal secara intens sebelumnya (kenalannya lewat perantara orang yang dipercaya dalam hal ini murabbi/yah bukan hasil usaha sendiri atau lewat jejaring sosial dan diusahakan seminimal mungkin interaksi di antara keduanya). Pernikahan yang membuat kita semakin stabil menghadapi beragam tribulasi dakwah. Pernikahan yang bagi seorang aktivis bukanlah akhir dari sebuah perjuangan tetapi awal yang baru dari sebuah perjuangan panjang yang diharapkan akan berakhir di JannahNya. InsyaAllah.

Waffaqanallahu jami’an.

Bersama zauji, ba’da subuh di penghujung Safar 1432 H

Read more ...

LARANGAN ISLAM MENCELA DENGAN ‘LAQAB’ YANG BURUK ( Tafsir QS. 49 : 11 )

20 Januari 2011
LARANGAN ISLAM MENCELA DENGAN ‘LAQAB’ YANG BURUK

( Tafsir QS. 49 : 11 )

Allah berfirman dalam QS. 49 : 11


Laqab (julukan/panggilan) artinya nama yang mengandung pujian ataupun celaan. Adapun laqab yang mengandung pujian, maka tidaklah mengapa sebagiamana ulama’ kita memberikan contoh laqab As-Shiddiq untuk Abu Bakar, Al-Faruq untuk Umar, Dzunnurain untuk Utsman dan Abu Turab untuk Ali -Radhiyallahu ‘anhum wa anishshahabati ‘ajma’in- maka tidak mengapa yang seperti ini. Adapun laqab yang dibenci oleh seseorang, maka sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab-kitab tafsir yang merupakan sebab turunnya ayat ini bahwasanya seorang di zaman jahiliyah memiliki beberapa nama dan jika dipanggil dengan nama tertentu akan muncul perasaan benci dan tidak suka. Sebagaimana ketika kaum dari Kabilah Bani Salamah datang kepada Nabi dan beliau Shalallahu’alaihi wa Sallam tahu beberapa nama tersebut dan memanggil salah seorang diantara mereka dengan laqab yang tidak disukainya, maka dengan cepat sahabat menegur Nabi Shalallahu’alaihi wa Sallam dan mengingatkan bahwa nama tersebut tidak disukainya, kemudian turunlah ayat ini.

Firman Allah


Artinya janganlah kalian memberikan laqab yang buruk dengannya orang tersebut merasa terganggu meskipun hal itu benar adanya dan ulama’ hadits mengecualikan hal ini dalam penamaan perawi hadits, maka kita akan mendapatkan beberapa riwayat hadits yang menyebutkan laqab seperti Al-A’raj (orang pincang), Az-Zayyat (penjual minyak) dan laqab lainnya yang keberadaannya diingkari oleh orang Arab karena maknanya yang kurang bagus tetapi karena orang tersebut tidak akan dikenal kecuali dengan nama tersebut, maka tidak mengapa dengan tidak memaksudkan penghinaan ataupun merendahkan.


Ibnu Jarir Ath-Thobari –rahimahullah-1 menyebutkan perkataan mujahid2 pada makna ayat ini bahwasanya hal ini termasuk laqab yang berhubungan dengan keislaman seseorang (hal-hal yang tidak diridhoi oleh Islam) sebagaimana jika seorang bersalah kemudian dipanggil ‘wahai fasiq’ atau ‘wahai munafik’ atau ‘wahai fajir’. Maka ulama’ kita berpendapat itulah makna ayat ini. Bahkan sebagian yang lain mengatakan hal tersebut lebih dari yang telah disebutkan sebelumnya. Berarti panggilan yang berkenaan dengan sifat tertentu yang masuk dalam ayat ini, misalnya: si fulan muta’ashshib (ta’ashshub), si fulan muqallid (taklid), si fulan mujtahid (ijtihad), si fulan sifatnya begini, si fulan pemikirannya begini. Tidak pantas bagi penuntut ilmu mengambarkan saudaranya dengan hal yang tidak diridhoi untuk dirinya sendiri, maka apakah yang terjadi jika pendapat saudaranya benar dan bersumber dari dalil yang syar’i?? Maka keadaanlah yang membuatnya berpegang teguh dengan kebenaran atau pendapat yang rajih. Akan tetapi kesalahan besar jika seorang penuntut ilmu mendapatkan masalah khilafiyah dan madzhab yang dia pegang mengambil sisi pendapat tanpa memiliki dalil apapun atau madzhab tersebut memiliki dalil dan madzhab yang lain memiliki dalil yang lebih kuat, maka tidak dibenarkan baginya bersikukuh dengan pendapat lemah dengan alasan madzhab tersebut adalah madzhab temannya, maka sangat tidaklah pantas. Akan tetapi dia tidak dicela, karena perkara tersebut adalah perkara ijtihadi dan tidak pantas untuk menjadikan perbedaan di atas menjadi arena saling mencaci, merendahkan dan memberi gelar yang tidak layak. Dan menjadi kewajiban bagi para penuntut ilmu untuk menjalin hubungan baik di antara mereka karena ilmu adalah perekat hubungan dan sepantasnya pula bagi penuntut ilmu untuk menjunjung tinggi ilmu. Jika terjadi masalah khilafiyah atau ijtihadiyah, maka bukan jalan menghina atau mencela yang lainnya. Dan hal yang sungguh menakjubkan ketika Imam Syafi’i mengunjungi kota Baghdad dan shalat subuh di dalamnya tanpa qunut, dikatakan kepada beliau, ‘kenapa engkau tidak qunut sedang madzhabmu berpendapat demikian?’ beliau menjawab, ‘untuk menghormati pemilik kubur ini (Imam Abu Hanifah)’. Sungguh sebuah adab yang luhur, sepantasnya para penuntut ilmu yang baru menapakkan kakinya untuk berqudwah dengan mereka yang hidupnya penuh dengan ilmu.

Para penuntut ilmu secara khusus hendaknya memperhatikan adab ini karena persaingan antara mereka akan memunculkan perasan yang tidak pantas dan pada akhirnya akan memunculkan laqab-laqab bagi teman ‘pesaing’ dalam menempuh jalan mulia ini.



Semoga Allah menjaga kita dari sifat ujub dan merasa paling benar sendiri. Hanya Dia jualah tempat mengadu dan memohon pertolongan.

Wallahu a’lam bishshawab.


1. 1. Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath Thobari, imam tafsir dan sejarah penyusun buku tafsir Ath Thobari dan buku sejarah lainnya, wafat tahun 310 H.

2. Mujahid bin Jabr, pemuka ahli tafsir di zaman tabi’in dan murid terdekat Ibnu Abbas, wafat tahun 104 H.




*Dikutip dari ceramah Syaikh Athiyah bin Muhammad Salim -Rahimahullah- wafat tahun 1420 H (http://www.islamweb.net) dengan sedikit penambahan oleh zauji.
Read more ...

Mudahkan Yaa Rabb...

17 Januari 2011
Ini hari kedua ujian final semester zauji di pasca sarjana...bahannya banyak sekali...kata zauji mata kuliah ini memang banyak sekali bahannya..kalo ga salah ingat mata kuliahnya ini tentang referensi ilmu tafsir (berbagai judul dan literatur tentang tafsir beserta biografi penulis and more...).
Semoga saja zauji dimudahkan memahami dan menjawab setiap soal dalam ujiannya. Amiin.
Teriring doa untukmu, mujahidku...inni uhibbukafillah.


ﺍﻟﻟﻬﻢ ﻻ ﺴﻬﻝ ﺃﻻ ﻣﺎ ﺟﻌﻟﺗﻪ ﺳﻬﻼ

ﻭ ﺍﻧﺕ ﺗﺟﻌﻝ ﺍﻟﺣﺯﻥ ﺇﺫ ﺷﺌﺕ ﺳﻬﻼ

“Ya Allah tidak ada kemudahan kecuali apa-apa yang Engkau jadikan mudah, dan kesusahan bisa Engkau jadikan mudah jika Engkau menghendaki mudah”

"Ya Allah, there is no ease except what You make easy, and trouble could You make it easy if You want easy"

(HR. Ibnu Hibban, Ibnu Sunni)
Read more ...

Tentang Nifas....

16 Januari 2011

HUKUM DARAH YANG MENYERTAI KEGUGURAN PREMATUR SEBELUM SEMPURNANYA BENTUK JANIN DAN SETELAH SEMPURNANYA JANIN

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz



Pertanyaan.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Di antara para wanita hamil terkadang ada yang mengalami keguguran, ada yang janinnya telah sempurna bentuknya dan ada pula yang belum berbentuk, saya harap Anda dapat menerangkan tentang shalat pada kedua kondisi ini ?

Jawaban.
Jika seorang wanita melahirkan janin yang telah berbentuk manusia, yaitu ada tangannya, kakinya dan kepalanya, maka dia itu dalam keadaan nifas, berlaku baginya ketetapan-ketetapan hukum nifas, yaitu tidak berpuasa, tidak melakukan shalat dan tidak dibolehkan bagi suaminya untuk menyetubuhinya hingga ia menjadi suci atau mencapai empat puluh hari, dan jika ia telah mendapatkan kesuciannya dengan tidak mengeluarkan darah sebelum mencapai empat puluh hari maka wajib baginya untuk mandi kemudian shalat dan berpuasa jika di bulan Ramadhan dan bagi suaminya dibolehkan untuk menyetubuhinya, tidak ada batasan minimal pada masa nifas seorang wanita, jika seorang wanita telah suci dengan tidak mengeluarkan darah setelah sepuluh hari dari kelahiran atau kurang dari sepuluh hari atau lebih dari sepuluh hari, maka wajib baginya untuk mandi kemudian setelah itu ia dikenakan ketetapan hukum sebagaimana wanita suci lainnya sebagaimana disebutkan diatas, dan darah yang keluar setelah empat puluh hari ini adalah darah rusak (darah penyakit), jadi ia tetap diwajibkan untuk berpuasa, sebab darah yang dikelurkan itu termasuk ke dalam katagori darah istihadhah, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Fatimah binti Abu Hubaisy, yang mana saat itu ia 'mustahadhah' (mengeluarkan darah istihadhah) : "Berwudhulah engkau setiap kali waktu shalat". Dan jika terhentinya darah nifas itu diteruskan oleh mengalirnya darah haidh setelah empat puluh hari, maka wanita itu dikenakan hukum haidh, yaitu tidak dibolehkan baginya berpuasa, melaksanakan shalat hingga habis masa haidh itu, dan diharamkan bagi suaminya menyetubuhinya pada masa itu.

Sedangkan jika yang dilahirkan wanita itu janin yang belum berbentuk manusia melainkan segumpal daging saja yang tidak memiliki bentuk atau hanya segumpal darah saja, maka pada saat itu wanita tersebut dikenakan hukum mustahadhah, yaitu hukum wanita yang mengeluarkan darah istihadhah, bukan hukum wanita yang sedang nifas dan juga bukan hukum wanita haidh. Untuk itu wajib baginya melaksanakan shalat serta berpuasa di bulan Ramadhan dan dibolehkan bagi suaminya untuk menyetubuhinya, dan hendaknya ia berwudhu setiap akan melaksanakan shalat serta mewaspadainya keluarnya darah dengan menggunakan kapas atau sejenisnya sebagaimana layaknya yang dilakukan wanita yang msutahadhah, dan dibolehkan baginya untuk menjama' dua shalat, yaitu Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya'. Dan disyariatkan pula baginya mandi untuk kedua gabungan shalat dan shalat Shubuh berdasarkan hadits Hammah bintu Zahsy yang menetapkan hal itu, karena wanita yang seperti ini dikenakan hukum mustahadhah menurut para ulama.

Kitab Fatawa Ad-Da'wah, Syaikh Ibnu Baaz, 2/75]



HUKUM DARAH YANG MENGALIR TERUS MENERUS DALAM WAKTU LAMA SETELAH KEGUGURAN

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin


Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Saya mempunyai seorang istri yang sedang hamil, pada bulan kedua dari masa kehamilannya ia mengalami keguguran karena banyaknya darah yang dikeluarkan, dan darah itu masih mengalir hingga saat ini, apakah diwajibkan baginya untuk melakukan shalat dan puasa ? Atau apa yang harus ia lakukan ?

Jawaban
Jika wanita hamil mengalami kegugran kandungan pada bulan kedua dari masa kehamilannya, maka sesungguhnya darah yang dikeluarkan ini adalah darah penyakit, bukan darah haid dan bukan pula dari nifas, maka dari itu diwajibkan bagi wanita untuk berpuasa dan puasanya sah, wajib baginya melaksanakan shalat dan shalatnya adalah sah, boleh bagi suaminya untuk menyetubuhinya dan tidak ada dosa baginya, karena para ulama mengatakan bahwa syarat diberlakukannya hukum nifas, yaitu jika janin yang dilahirkan sudah berbentuk manusia dengan telah terbentuknya organ-organ tubuh dan telah memiliki bentuk kepala, kaki dan tangan. Jika seorang wanita mengeluarkan janin sebelum memiliki bentuk manusia, maka darah yang dikeluarkan oleh wanita yang melahirkan janin ini bukan darah nifas.

Keterangan ini menimbulkan pertanyaan. Kapan janin itu berbentuk manusia?

Jawabnya adalah : Janin itu telah memiliki bentuk jika telah berumur delapan puluh hari atau dua bulan dua puluh hari, bukan empat bulan, sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Mas’ud yang terkenal, ia berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami.

“Artinya : Sesungguhnya seseorang di antara kalian dipadukan bentuk ciptaanNya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk air mani, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari pula (maka inilah masa empat bulan) kemudian Allah mengutus malaikat kepadanya …. “, hingga akhir hadits.

Tentang segunpal daging itu diterangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kitabNya, bahwa segumpal daging adalah segumpal darah yang belum sempurna bentuknya, jadi janin itu tidak mungkin memiliki bentuk sebelum berumur delan puluh hari, dan setelah delapan puluh hari bisa jadi berbentuk dan bisa jadi tidak berbentuk. Para ulama berpendapat bahwa umumnya janin itu telah berbentuk menjadi manusia jika janin bayi telah berumur sembilan puluh hari, maka janin yang ada dalam perut wanita yang baru dua bulan ini belum memiliki bentuk manusia karena baru enam puluh hari, dengan demikian darah yang keluar darinya adalah darah penyakit yang tidak menghalanginya untuk berpuasa, shalat serta ibadah-ibadah lainnya.

[Durus wa Fatawa Al-Haram Al-Makki, Syaikh Ibnu Utsaimin, 3/266]

[Disalin dari Kitab Al-Fatawa Al-Jami'ah Lil Mar'atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Penyusun Amin bin Yahya Al-Wajan, Penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin, Penerbit Darul Haq]


dikutip dari : http://www.almanhaj.or.id/content/1909/slash/0

Read more ...

SabarQ...

15 Januari 2011

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ حَكِيمٍ حَدَّثَنِي عَامِرُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي أُحَرِّمُ مَا بَيْنَ لَابَتَيْ الْمَدِينَةِ أَنْ يُقْطَعَ عِضَاهُهَا أَوْ يُقْتَلَ صَيْدُهَا وَقَالَ الْمَدِينَةُ خَيْرٌ لَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ لَا يَدَعُهَا أَحَدٌ رَغْبَةً عَنْهَا إِلَّا أَبْدَلَ اللَّهُ فِيهَا مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْهُ وَلَا يَثْبُتُ أَحَدٌ عَلَى لَأْوَائِهَا وَجَهْدِهَا إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا أَوْ شَهِيدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ و حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا مَرْوَانُ بْنُ مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ حَكِيمٍ الْأَنْصَارِيُّ أَخْبَرَنِي عَامِرُ بْنُ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثُمَّ ذَكَرَ مِثْلَ حَدِيثِ ابْنِ نُمَيْرٍ وَزَادَ فِي الْحَدِيثِ وَلَا يُرِيدُ أَحَدٌ أَهْلَ الْمَدِينَةِ بِسُوءٍ إِلَّا أَذَابَهُ اللَّهُ فِي النَّارِ ذَوْبَ الرَّصَاصِ أَوْ ذَوْبَ الْمِلْحِ فِي الْمَاءِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair -dalam riwayat lain- Dan Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Utsman bin Hakim telah menceritakan kepadaku Amir bin Sa'dari dari bapaknya ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku menjadikan kota Madinah sebagai tanah haram, yaitu antara kedua bukitnya yang berbatu-batu hitam. Jangan ditebang pepohonannya, dan jangan pula dibunuh hewan buruannya." Dan beliau juga bersabda: "Kota Madinah lebih baik bagi mereka jika sekiranya mereka mengetahuinya. Orang yang meninggalkan kota itu karena tidak senang kepadanya, maka Allah akan menggantinya dengan orang yang lebih baik daripadanya. Seorang yang betah tinggal di kota itu dalam kesusahan dan kesulitan hidup, maka aku akan memberinya syafa'atku atau menjadi saksi baginya di hari kiamat nanti." Dan Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar telah menceritakan kepada kami Marwan bin Mu'awiyah telah menceritakan kepada kami Utsman bin Hakim Al Anshari telah mengabarkan kepadaku Amir bin Sa'id bin Abu Waqash dari bapaknya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda. Lalu ia pun menyebutkan hadits yang serupa dengan haditsnya Ibnu Numair. Dan ia menambahkan di dalam hadits itu; "Tidaklah salah seorang penduduk Madinah menginginkan keburukan, kecuali Allah akan menyiksanya di dalam neraka, yaitu dengan lelehan timah atau lelehan garam di dalam air."

(Shahih Muslim, Kitab Haji, Bab Keutamaan Madinah dan doa Nabi Shalallahu'alaihi wa Sallam dengan keberkahan di dalamnya, No. hadits 2426)
Read more ...

1 lagi Nikmat dariNya

17 Desember 2010
Saya masih ingat 1 bulan yang lalu dan hari-hari sebelum tgl 13 November 2010. Hari-hari yang tidak mudah saya lewati juga tidak sedikit juga kesulitan melewatinya dimudahkan olehNya dengan cara/jalan yang terkadang tak diduga-duga. Allahu Akbar…Allah Maha Besar…

Buat teman sejawat (TS) dokter, pastinya tau apa itu UKDI (Ujian Kompetensi Dokter Indonesia), ujian yang cukup sulit, buat hati kebat-kebit, badan panas-dingin, ujian yang cukup menentukan bagaimana profesi kita kedepannya, sehingga kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk lulus dari ujian tsb. Mulai dari belajar bersama dengan metode diskusi, mengikuti pembahasan soal-soal try out sebelumnya juga mengikuti try out untuk mengasah ilmu yang telah kita dapatkan. Sedikit banyak saya tahu bagaimana ‘perjuangan’ TS saya untuk lulus. Saat itu pun saya ingin sekali seperti mereka, mencurahkan segenap perhatian dan waktu saya, tapi ternyata jalan saya tidak seperti itu. Saya salut sekali sama TS saya itu. Saya hanya beberapa kali ikut belajar bersama, pembahasan try out juga 2 kali ikut try out dengan modal pas-pasan. Selain itu, saya malah sibuk sama urusan yang mungkin secara kasat mata ga ada relevansinya dengan bisa lulusnya saya di ujian kompetensi nanti. Dan bila malam datang dengan tubuh yang letih terlintas dalam pikiran saya, apa bisa dengan usaha pas-pasan ini saya bisa lulus? Saya belajar di sisa-sisa waktu saya. Di saat mereka telah cukup mapan dengan persiapan demi persiapan, saya masih sibuk mengingat kembali apa-apa yang pernah saya pelajari. Betapa ‘miskin’nya saya saat itu dibanding TS saya.

Sebulan telah berlalu, selama penantian saya hanya bisa berdoa meminta yang terbaik. Dan di ujung pengharapan saya pada keMahaBesaranNya, saya mendapat kabar bahwa nama saya ada dalam daftar dokter yang lulus UKDI. Subhanallah… semuanya betul-betul diluar dugaan saya. Semuanya karna belas kasihNya. Jika saat itu hanya mengandalkan kekuatan saya, sungguh saya tidak akan mendapatkan apa-apa. Semua ini pun tak luput dari doa dan dukungan orang tua, mertua, zauji (meskipun saat itu jarak yang memisahkan kami teramat jauh), akhwaatfillah, juga TS yang belajar bersama di perpus FK UMI (Riri 'sang motivator', Aci, K' Hendra, Erdha, Mila, Manda, Lutfi, Adi). Jazaakallahufiikum.

Juga berkat bantuan salah seorang mutarabbiyah saya, jazaakillahu khairan jazaa... smoga Allah melipatgandakan pahala kebaikan kepadamu sebab telah menjadi perantara dimudahkannya urusan Kakak.

Banyak hikmah dari sampainya nikmat ini kepada saya yang saya harap bisa saya bagi kepada akhwaatfillah, salah satunya saya kutip dari surat cintaNya pada kita… “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (QS. 47 : 7). Bahwa Allah tidak akan menyepelekan perkara sekecil apapun yang pernah kita lakukan di jalanNya. Oleh karena itu, jangan pernah kita berpikir dua kali untuk menolong agamaNya disaat lapang maupun sempit dengan apa yang kita miliki hari ini, sekecil apapun itu sebab “Barangsiapa yang mengerjakan

kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya”. (QS. 99 : 7). Dan balasannya, serahkan sepenuhNya kepada Allah, sebab Allah adalah Khairutstsawaab (sebaik-baik Pemberi Pahala) dan Khairu’uqbaa (sebaik-baik Pemberi Balasan). Yakinlah, Saudariku!!!

Hari ke-9 Muharram 1432H.

Read more ...

‘1000’ MASJID

13 Desember 2010

Kisah ini terjadi di awal pernikahan kami, setahun yang lalu.


Setelah sepekan menikmati masa-masa indah pengantin baru dimana dunia seakan-akan milik berdua yang lainnya cuma numpang, akhirnya saya harus kembali bergelut lagi dalam dunia percoassan dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain. Bersyukur sebab ‘wisata’ kali ini sudah tak single lagi. Ada pangeran yang siap mengantar kemana sang putri berkelana mengais ilmu.


Saat itu bagian yang dimasuki adalah MATA. Lama clerkshipnya 4 pekan dengan seabreg aktivitas dan jadwal layaknya seleb baru naik daun. Dalam sehari ga bisa betah di satu tempat. Pagi di WS bentar kemudian di BKMM trus lanjut ke Orbita. Belum lagi kalo dapat jaga mesti balik ke WS lagi setelah seharian wara-wiri di tengah hiruk-pikuknya ‘trafic jam’ kota Daeng yang semakin mirip dengan khasnya kota-kota besar di negeri kita ini. Macet! Yah…kemacetan sudah jadi pembahasan yang tak kalah hangatnya layaknya harga cabe merah kriting yang bisa tiba-tiba melonjak harganya. Belum lagi kalo demo. Haddeeh…janganmi ditanya. Hujan emas di negeri orang lebih baik dari pada hujan batu di negeri sendiri (ya iyalah…). Pahamkan?! Mending batunya buat orang-orang kafir tuk membela Dinul Islam, ini malah buat ngelemparin saudara sendiri, merusak fasilitas umum, merugikan Negara! (bener-bener ‘perjuangan’ yang ga jelas arah dan tujuannya. Miris!). Maka terciptalah image tak baik buat orang-orang di kota Anging Mamiri ini, kasar! Padahal aslinya ga seperti itu, ya ga?! Ramah-ramah, koq. Manis dan humanis pulak. Seperti yang lagi pada baca tulisan ngalor-ngidul saya ini (alaah…GR!). Kembali ke cerita indah tak terlupakan….^_^


Jam 07.30 sudah harus stay on di WS, absen…absen... telat, coret! Alhamdulillah selain rumah ga terlalu jauh dari WS (rumah kami di BTP) ada yang ngantar juga jadi ga pernah telat. Setelah itu ada aja kegiatan yang membuat kami harus hengkang dari mabesnya para coass di Makassar. Entah pembacaan coass senior, diskusi dengan residen dan supervisor atau sekedar melapor buat diskusi. Hingga tibalah waktu shalat. Nah..ini dia maksud dari judul cerita ini. Terutama shalat dzuhur dan ashar. Terkadang maghrib dan isya pun turut. Syukurnya tarwih ga, sebab zauji ketika itu diamanahkan jadi imam di Masjid Wihdatul Ummah. Selama 4 pekan coass di bagian mata, saya coba mengingat-ngingat berapa banyak masjid yang kami (saya dan zauji) tempati untuk shalat dan sekedar melepas penatnya tubuh yang terpanggang panasnya matahari (kebetulan waktu itu musim kemarau), terutama zauji yang sampai belang kulit di daerah tangan dan kakinya. MasyaAllah…terharuku!

Lokasi masjid-masjid itu mulai dari daerah WS dan sekitarnya, masjid kampus UIM, masjid perumahan Hartaco, seputaran Dg. Sirua, daerah Gunung Sari, mapala dan sekitarnya dan yang paling jauh kami pernah shalat ashar di masjid kampus UNISMUH. Udah kayak musafir aja. Kejadian kayak gini karna perginya bareng ikhwa yang emang ga boleh melewatkan shalat berjamaah di masjid, as long as he can. Masjidnya pun dipilih yang berhijab kain ‘rapi’, bukan hanya sekedar ‘pembatas’ shaf antara jamaah ikhwa dan akhwat, jadinya terkadang sudah sampai di satu masjid jadi urung shalat di situ karna hijabnya yang ga mendukung, so bergegas mencari masjid yang lain supaya ga ketinggalan jamaahnya. Meski ga sampai bilangan 1000, tapi sudah cukup banyak masjid yang kami singgahi selama 4 pekan itu yang kalo diingat-ingat, seru dan lucu juga masa-masa clerkship di bagian itu. Yang ga hanya berkutat dengan keluhan-keluhan pasien, lembar-lembar status pasien, wajah-wajah serius para residen dan supervisor (tapi cukup nyaman juga dibagian ini, cukup bersahabat), dan seabreg aktivitas wara-wiri tadi saya juga dapat ber’wisata ruhiyah’ ke ‘1000’ masjid bersama kekasih hati belahan jiwa (harap maklum^_^).

· Kepada siapa lagi kisah ini kupersembahkan kalo bukan kepada pujaan hatiku ^_^ plus rasa terima kasih telah mendampingi hingga sukses menyelesaikan coass di bagian Mata tepat pada waktunya.

Hari ke-6 Muharram 1432H

Read more ...

HARU BIRU JALAN DAKWAH (untaian nasehat untukmu, saudariku)

19 Oktober 2010
Bismillah….
Ba’da tahmid wa shalawat
Tulisan ini hadir dari kesedihan, kemirisan, kepiluan hati melihat secara nyata realita hidup, yang mungkin dahulu hanya lewat pendengaran kisah itu mampir, tapi saat ini (sebenarnya sudah sejak lama) mata ini benar-benar melihat ‘penyakit’ itu menjangkiti mereka, saudari-saudariku. Inikah seleksi alam? Tahukah dirimu, saudariku..hati ini menangis bagai disayat sembilu melihat dirimu kini bagai orang asing, mencari-cari masih adakah bekas ilmu yang dahulu pernah kita kejar bersama. Hingga tak terasa tetes demi tetes air mata menyadarkan diri ini bahwa kini engkau telah banyak berubah, saudariku sampai-sampai hampir tak kukenali lagi.
Tulisan ini pun hadir dari ketidakberdayaan merubah takdir seorang manusia, sebab diri ini hanya manusia biasa, sebab diri ini hanya perantara, sebab hanya merekalah yang dapat merubah nasib mereka sendiri, tentunya atas izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. 13. 11)
Tulisan ini pun hadir bukan karena diri ini merasa paling ‘alim, paling sempurna, paling benar, paling suci. Sungguh, terlalu naïf rasanya, sebab diri ini pun hanya manusia biasa yang sama seperti kalian saudariku..memiliki segumpal daging yang dengan mudahnya berbolak-balik juga hanya manusia biasa yang tak makshum seperti Baginda Rasulullah Shalallahu’alahi wa Sallam. Tetapi, tulisan ini hadir sebab kecintaan diri ini pada kalian, saudariku.
Pun sekiranya dari setiap rangkaian kata dalam tulisan ini ada yang menyinggung hati kalian, maka bersyukurlah saudariku, sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala masih menginginkan kalian untuk ‘kembali’. Oleh karena itu, tolong disikapi dengan positif, bijak, tanpa amarah. Sebaliknya jika tak ada reaksi sedikitpun dari hati kalian, justru itu yang perlu dikhawatirkan, sebab boleh jadi kesempatan itu sudah tak ada lagi. Na’udzubillahimindzalik tsumma na’udzubillahiminzalik.
Banyak hal yang mewarnai hari-hari kita semenjak Allah Subhanahu wa Ta’ala mempercayakan hidayahNya pada diri kita. Mulai dari yang manis, asam, asin bahkan pahitpun pernah kita rasakan. Tapi, itulah jalan dakwah, saudariku..sudah menjadi aksioma di kalangan pejuang dakwah bahwa jalan itu jalan yang berliku, jalan panjang yang tak berujung, jalan yang penuh dengan onak dan duri. Yang tak jarang pada saat kita berjalan bersama saudari-saudari kita, secara bergantian akan terjatuh, menangis, tersungkur, bersedih, kecewa, tertatih, berpeluh-peluh, merasa dikhianati, terseok-seok, merasa tak dihargai, terjerembab, terpaku, tersakiti, marah, letih, dan banyak hal tak mengenakkan lainnya, lantas secara spontan kita bertanya (mungkin lebih banyak hanya dalam hati) ‘sampai kapan harus begini?’ pertanyaan retoris, tak memerlukan jawaban, sebab kita bukannya tidak tahu kalau hal-hal seperti itulah yang akan kita rasakan ketika kita berazam untuk turut dalam sebuah kafilah dakwah. Benarkan, saudariku? Tetapi, jangan pernah berkecil hati, sebab gambaran jalan dakwah tidak hanya yang seram-seram seperti yang sudah disebutkan. Ternyata ada sisi lain dari jalan tersebut yang mungkin tidak semua dari kita bisa langsung merasakannya atau seiring dengan berjalannya waktu kita akan merasakannya. Dan ‘rasa’ itu sejalan dengan kondisi keimanan kita. Manakala keimanan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari Akhir baik, maka ‘rasa’ itu semakin indah dalam hati kita, sebaliknya jika kondisi keimanan kita sedang down, maka sekonyong-konyong kita ingin segera menjauh dari jalan ini. Seperti itukah yang engkau rasakan, saudariku? Mengutip syair sebuah nasyid yang berjudul ‘Sekeping Hati’ :
Sekeping hati dibawa berlari
Jauh melalui jalan nan sepi
Jalan kebenaran indah terbentang
Di depan matamu para pejuang
Tapi jalan kebenaran tak akan selamanya semu
Ada ujian yang datang melanda
Ada perangkap menunggu mangsa
Akan kuatkah kaki yang melangkah
Bila disapa duri yang menanti
Akan kaburkah mata yang menatap
Pada debu yang pasti kan hinggap
Berharap senang dalam berjuang
Bagai merindu rembulan di tengah siang
Jalannya tak seindah sentuhan mata
Pangkalnya jauh ujungnya belum tiba
Di awal hijrah..semuanya terasa indah dalam pandangan dalam khayalan lantas terpatri menjadi sebuah himmah ‘aliyah, sehingga tak sedikit kerja-kerja dakwah, musyawarah, mabit sana-sini terselesaikan dengan mudahnya tak terasa sebagai beban juga tak sedikit ‘taman-taman syurga’ yang kita singgahi untuk mencash ruhiyah, mengembangkan diri, melepas lelah serta membina ukhuwah islamiyah di dalamnya. Hingga wujud juga sikap kita pun berubah, bagai seekor kepompong lusuh yang bermetamorfosis menjadi seekor kupu-kupu yang cantik di mata Allah juga di mata saudari-saudarimu. Tapi, tak sedikit orang yang tak menyukai perubahan kita, saudariku. Ada yang mencemooh, mengatakan kita berlebihan, kuno, jadul, Islam garis keras, fanatik bahkan bukan hanya kata, sebagian dari mereka (dan yang menyedihkan mereka adalah orang tua kita) tidak segan-segan memerintah kita berbuat maksiat kepada Allah, memboikot, mengancam untuk tidak lagi membiayai kuliah kita semata-mata agar kita meninggalkan jalan dakwah. Tetapi itu tak menciutkan nyali kita, tak menyurutkan langkah kaki kita, tak membuat kita gentar, bahkan membuat kita semakin kukuh berazam meski akhirnya menjadi golongan minoritas dalam keluarga sendiri. Hingga lambat laun atas izin Allah, keluarga kita mendukung keterlibatan kita dalam dunia dakwah. Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah, Tuhan Semesta Alam. Seperti itukah yang engkau rasakan, saudariku?
Kebersamaan dengan akhwaatfillah menjadi penghibur hati, penambah semangat. Sejenak melupakan masalah bahkan lewat kebersamaan itu kita mendapatkan solusi mengatasi masalah yang sedang kita hadapi. Namun, sudah sunnatullah dalam kehidupan berjamaah sudah pasti akan terjadi gesekan-gesekan mulai dari yang halus bisa diatasi sampai yang kasar membuat kita mengurut dada lantas bertanya (masih lebih sering dalam hati) ‘seperti itukah seorang akhwat?’, menitikkan air mata, menjauh selangkah demi selangkah hingga pada akhirnya tak pernah tampak dalam jamaah. Seperti itukah, saudariku? Pernahkah kita berpikir bahwa saudari kita juga manusia biasa layaknya kita, tak luput dari salah, meski ia lebih tua dari kita, lebih dulu hijrah daripada kita, lebih tinggi amanahnya dibanding kita, tapi dia tetaplah seorang manusia yang butuh untuk di nasehati jika di mata kita dia lalai, jika dia melakukan kemungkaran, jika dia berlebihan dalam tutur maupun sikap. Tentunya ketika kita menjadi orang yang menegur ataupun yang ditegur harus menyadari bahwa tidaklah sesuatu itu terjadi melainkan telah diatur oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan selalu sesuai dengan kadar keimanan kita, sebab tidak mungkin Allah memberikan ujian diluar batas kemampuan kita. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya….”. Maka berlapangdadalah, “fashbir sabran jamilan” , berbaik sangka kepada saudarimu, mengembalikan makna perkataannya kepada makna yang terbaik (seperti ini kan kaidah yang diajarkan dalam tarbiyah-tarbiyah kita, saudariku?). Lantas sampaikanlah apa yang menjadi kegundahan hatimu kepada orang yang dipercaya dapat membantumu memberikan solusi atas masalah yang sedang kau hadapi, bukan berlari atau mundur teratur dari jamaah, enggan untuk bertemu dengan akhwat yang dahulu menjadi teman dalam ‘perjalanan’ hingga tanpa merasa berdosa kepada Rabb semesta alam, engkau ‘rela’ menanggalkan idealisme yang telah kita ilmui kewajibannya juga akibat yang ditimbulkan bila melanggarnya. Subhanallah…kenapa harus seperti itu, saudariku? Kenapa ‘hanya’ karena ketersinggungan lantas engkau tega merusak dirimu sendiri? Padahal segala sesuatunya masih bisa dibicarakan baik-baik, masih bisa dicarikan solusi yang terbaik, masih ada jalan untuk memperbaiki setiap kesalahan yang telah diperbuat saudarimu, saudariku. Padahal hidayah itu begitu susah payah engkau dapatkan, pertahankan..hingga (sekali lagi) ‘hanya’ karena ketersinggungan engkau begitu tega melepaskan semuanya, bagai debu diterbangkan angin. Sungguh hati dan pikiran ini sampai detik ini masih terus bertanya, “dimanakah ilmu yang selama ini (bertahun-tahun) kita tuntut, saudariku? Apakah tak ada bekasnya sama sekali? Apakah tak ada yang tersisa walau sedikit? Apakah tak ada sedikitpun yang sanggup menjadi antibodi bagi virus-virus kefuturan? Dan apakah engkau tak takut akan azab Allah atas apa yang telah engkau perbuat hari ini sedang engkau mengetahuinya, saudariku? Tak takutkah engkau atas pertanggungjawaban ilmu yang engkau miliki kelak di hadapan Allah?”. Subhanallah..tubuh ini bergidik memikirkan semua itu, saudariku. Ampuni kami Ya Rabb.
Ujian lain yang menghiasi perjalanan dakwah ini adalah virus merah jambu yang tak luput dari hati-hati kita, saudariku. Bahkan godaan syaitan lebih dahsyat dengan melabelinya dengan label ‘dakwah’ ataupun ‘Islami’. Ini bukan kasuistik, saudariku, ini sebuah fenomena. Fenomena yang sangat mengenaskan. Yang banyak menjadi sebab bergugurannya saudari-saudari kita. Saudariku, apa yang engkau ragukan? Janji Allah itu pasti datangnya. Ketika Dia mengatakan, “…dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…..”, maka yakinlah Allah telah mempersiapkan jodoh terbaik untuk menjadi pendamping kita mengarungi perjalanan panjang nan suci menuju JannahNya, menjadi teman sejati di jalan cinta para pejuang dakwah, menjadi patner dalam urusan-urusan dakwah. Tidakkah itu sesuatu yang indah, saudariku? Lantas kenapa kita masih ragu, saudariku? Kenapa kita tidak mau sedikit saja bersabar menunggu waktu yang tepat agar semuanya mejadi indah pada saatnya dengan ridhoNya? Kenapa kita nekat mengambil jalan pintas? Bahkan tidak sedikit yang mengambil kesempatan dari interaksi dengan ikhwah, padahal kita adalah orang yang paham akan bagaimana seharusnya menjaga hubungan dengan lawan jenis terutama ikhwah yang begitu sensitif dengan keberadaan kita, saudariku. Meski berjauhan, meski lewat dunia maya (jejaring sosial dan semacamnya), meski lewat media elektronik, sungguh tak ada celah, saudariku..hijab mesti tegak dimanapun interaksi itu terjadi, sebab bukan tidak mungkin syaitan memainkan perasaan kita di dalamnya. Dan ketika hal itu telah terjadi, rasa malu hilang lenyap ditelan ‘kebahagiaan’ semu. Cukuplah hadits ini menjadi nasehat buat kita semua, saudariku. Dari Abi Mas'ud al-Badri radhiallâhu 'anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: " Sesungguhnya diantara ucapan kenabian pertama (Adam) yang didapat oleh manusia adalah: 'jika engkau tidak merasa malu maka perbuatlah apa yang engkau inginkan' ".(H.R.Bukhari). Tetapi, sadarkah engkau, saudariku bahwa Allah Rabb semesta alam cemburu melihat perbuatanmu sembunyi-sembunyi bermesraan dengan kekasih gelapmu. Laki-laki yang belum sedikitpun halal untuk kau perhatikan sedemikian dekatnya layaknya seorang istri kepada suaminya, belum sedikitpun halal untuk kau sapa dengan sebutan: sayang, cinta, abi, dan sebutan manja lainnya, belum sedikitpun halal untuk kau titipkan rasa cinta yang suci, belum sedikitpun halal untuk kau titipkan harapan-harapanmu akan masa depanmu. Belum halal, saudariku dan jangan coba-coba bermain api di wilayah ini, sungguh sangat berbahaya, saudariku. Kasihanilah dirimu, saudariku. Sedikit atau banyaknya tetap mendapat balasan yang setimpal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jangan kau rusak perjalanan hidupmu dengan catatan-catatan keburukan, sebab sejarah tak bisa dihapus, dia akan terus menjadi bayang-bayang dalam kehidupanmu. Jangan sampai sesal selalu terselip dalam hati, dalam lisan juga dalam pikiranmu.
Ternyata ujian keimanan itu tak datang dari tempat yang jauh, tetapi justru datang dari dalam diri kita sendiri. Ujian keimanan itupun selalu sebanding dengan kadar keimanan kita; tidak pernah melebihi, ujian itu untuk menguji seberapa besar pengaruh ilmu syar’I yang telah kita tuntut dan ujian itu belum sampai menuntut kita untuk mengorbankan harta bahkan nyawa kita.
Saudariku, semoga untaian nasehat ini bermanfaat terutama bagi diri ini juga untukmu saudariku. Mohon diampunkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk setiap kata yang tak berkenan di hati. Segala yang benar datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan yang salah datangnya dari diri ini yang dhaif dan syaithan la’natu’alaih. Uhibbukifillah.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”(QS. 103:1-3)
Read more ...

Gandeng Tanganku Menuju JannahNya

04 Maret 2010
(sebuah essay cinta untuk zaujiku, H.M. Basran, Lc…insyaAllah^^)

Untuk kesekian kalinya titik-titik air yang membasahi bumi menemani kesendirian malam ini. Tak terasa sudah 126 hari menjalani keseharian hidup tanpanya yang saat ini tengah menyelesaikan kuliahnya di negeri para Nabi, Madinah. Jangan tanyakan sebesar apa rasa rindu yang tersimpan untuknya. Rindu yang tak dapat dirangkaikan lewat kata, tak dapat dilukiskan lewat apapun juga tak dapat dibandingkan dengan apapun. Sebab rindu ini, rindu yang teramat sangat.

Rabb…dirinya adalah anugerah terindah dalam hidup ini. Tidak pernah terbayang sebelumnya akan mendapatkan seorang zauji seperti beliau, bahkan mendambakannya pun tak pernah. Sebab, siapalah diri ini…tak seperti akhwaatfillah yang lainnya…muharrikah sejati. Tanpa menafikan sisi kemanusian beliau, yang juga tak luput dari khilaf, yang juga punya kekurangan. Tetapi…Subhanallah! Semuanya tertutupi oleh ilmu juga akhlak yang menjadi perhiasannya. Bukan hanya pada diri ini juga pada yang lainnya terlebih kepada kedua orang tua kami.

“Ummi…jauhnya perjalanan bukan sebab ‘tuk mengeluh. Beratnya beban bukan sebab ‘tuk menyerah dan Abi tahu Ummi adalah pilihan Allah dari atas langit ketujuh, maka kalimat syukur terucap selalu”. Subhanallah! Begitu menyejukkan, menentramkan, memberi semangat baru setiap kali membaca pesan singkat yang rutin dia kirimkan.

Subhanallah! Tak pernah sedikitpun terbersit penyesalan mengatakan siap untuk menjalani kehidupan yang baru bersamanya. Justru sebaliknya, menyesal kenapa tidak sedari dulu. Subhanallah! Rencana-Nya sungguh teramat indah. Indah pada waktunya. Bahagia merayakan cinta…cinta yang tak kan lekang oleh waktu...bersamanya, Zaujiku.

Rabb…izinkan diri ini dalam penantiannya terus berhias dengan ilmu juga akhlak yang mulia, menjaga diri sebagaimana beliau, hingga tiba masa dimana Engkau akan mempertemukan kami kembali dalam keridhoan-Mu.

Rabb…izinkan diri ini menjadi pendampingnya dalam menapaki jalan dakwah, jalan yang panjang penuh liku, menjadi bagian dari perjuangan menegakkan Khilafah Islamiyah...menjadi oase di tengah keluarga...memberikan yang terbaik u/ Dienullah...yang berujung pada kebahagiaan hakiki. Zaujiku…gandeng tanganku menuju Jannah-Nya


Rumah biru, di penghujung Januari 2010. Dalam sepi menanti kedatangan zauji tercinta.
Read more ...

akhirnya....^^

29 Mei 2009
Rabu, 270509...
Akhirnya...penggalan kisah tanpa judul itu berlanjut (masih ingat judul postingan "penggalan kisah tanpa judul"?)...^^
Akankah happy ending??? I wish my story will be continue...^^ only could pray..pray n pray...
Read more ...

assalamu'alaikum dunia^^

Read more ...

sandal...siapa mau???

Read more ...

Suatu hari di OK LB....

28 Mei 2009

Senin, 25 Mei 2009....
Pukul 07.30 teng (waktu LB, sempat-sempatnya kulirik jam dinding tepat di depan tempat registrasi pasien)...Alhamdulillah, ucapku dalam hati plus senyum 225. Dikepalaku, secepatnya aku harus sampai di lantai 2 OK sentral untuk mengganti pakaianku dengan seragam biru-biru lengkap dengan topi, masker dan sederet alat tulis-menulis yang pasrah terjejer di saku bajuku khas coass anestesi banget yang 'nongkrong' di OK. Ini adalah hari pertamaku dinas di 'luar negeri' (istilah pakem yang digunakan ketika sang coass sedang bertugas di luar RSWS, baca RS Wahidin Sudirohusodo) tepatnya di RSUD Labuang Baji yang akrab disapa LB (entah siapa yang memulainya)..so, mengambil istilah kesan pertama begitu menggoda selanjutnya terserah anda, maka hari ini aku ga boleh telat alias mesti sudah stand by di OK before the first operation in began..betul..betul....
Kabarnya hari ini ada 14 OK. Subhanallah...beri hambaMu kekuatan ya Rabb....

Pukul o8.00 lebih dikit, waktu LB....
Operasi pertama dimulai...diagnosis struma noduler rencana tindakan strumektomi...awal yang baik...tapi 15 menit kemudian operasi kedua mulai...diagnosis NOK + amonere primer ec. ??? rencana tindakan kistektomi...masih bisa di atasi...di tengah perjalanan kedua operasi tsb yah kira-kira 1 jam kemudian, 1 pasien diantar ke OK 3...artinya operasi ke 3 bakal dimulai...pasien dengan tumor regio maxilla sinistra susp. hemangioma...yang ini biarlah minggu senior yang pegang...soalnya OK 3 ini OK tanpa monitor (EKG, vital sign plus saturasi O2 nya), but the show must go on...dan dimulailah operasi itu dengan tensi manual di kaki per palpasi a. dorsalis pedis per 5 menitnya lengkap dengan jumlah nadinya. Beres.
Operasi demi operasi pun berlanjut dan tanpa terasa 2 kaki dan pinggang ini telah begitu teramat pegal terlebih lagi tenggorokan ini...masyaAllah haus yang teramat bagai sedang berpuasa...awalnya masih bisa menahan...bertahan..ditahan-tahan...tapi akhirnya jebol juga...aku segera ambil langkah seribu menuju dapur yang letaknya hanya beberapa meter dari OK 1 yang hanya dipisahkan oleh sekat dari kaca bening. 1 yang pasti, aku harus segera menemukan sumber mata air karna jika tidak, maka bisa jadi aku lah pasien berikutnya yang butuh resusitasi cairan. Dibantu oleh seorang perawat seinor, aku mencari dimana gerangan sumber mata air itu...masyaAllah kosong...tak ada satupun...galon di ruangan itupun telah tandas airnya sejak beberapa hari yang lalu alias ga pernah ada isinya. Nelangsa iyah...tapi subhanallah...shadaqallahu..."But lo! with hardship goeth ease, lo! with hardship goeth ease." memang nyata adanya...seperti pada kisahku ini...Allah kemudian mendatangkan perantara seorang perawat yang usianya telah lanjut dengan serta-merta berkata, "ada air ku, dok..tapi mauji ki'minum?"tanya nya tanpa basa-basi...subhanallah...belum kuteguk saja, rasa-rasanya dahagaku telah hilang.... Perawat itu pun memberikan botol air minumnya yang sudah memudar warnanya (mungkin itu maksud dibalik pertanyaannya tadi, "...tapi mauji ki'minum?") dengan senyum yang benar-benar tulus. Serrrrr....hati ini berdesir...subhanallah...2 jempol...4 sekalian buat ibu ini.... "Bu, boleh saya minum semuanya?" pintaku. "Minum meq, dok...saya sudah minum tadi, teh 1 gelas, saya memang selalu bawa air minum dari rumah." katanya sambil tersenyum...senyum yang benar-benar tulus. Alhamdulillah..."makasih, bu...insyaAllah besok saya ganti." kataku. "Tidak usahmi, dok..tidak apa-apa." lanjutnya seraya berlalu dari dapur kembali bertugas di OK.
Ya..Rabb, aku jadi teringat tentang kisah 3 orang sahabat di perang Badar yang kehausan dan ingin sekali minum, tapi ketiganya saling mendahulukan saudaranya yang lain, hingga tak satupun minum lalu syahid dalam keadaan haus....
Lagi-lagi...rasa haru menyeruak dalam hati bak bunga yang sedang bermekaran...Ya Rabb...1 lagi kemudahan Engkau berikan kepada hamba lewat perantara hambaMu yang lain... Dalam hati aku bertekad untuk menggantikan minum yang telah diberikan oleh ibu tadi. Tak lupa sebait do'a untuknya agar Allah memberikan pahala yang setimpal dengan kebaikan juga ketulusan beliau. Amiin ya Rabb.
Read more ...

my 1st day was on duty at ICU....

26 Mei 2009
Ini kali pertama aku dapat kebagian jaga di ICU RSWS...di minggu ketiga stase anestesi. tapi sekarang aku lagi standby di ruang hemodialisa (HD) menemani 1 orang pasien dari ICU yg sedang menjalani HD. Di ruangan ini, dari 21 tempat tidur pasien (bed) yang disediakan, yang kosong bisa dihitung hanya dengan 5 jari. Yah..artinya cukup banyak pasien yang sore ini sedang menjalani HD dan yang pasti 50% dari para pasien tersebut adalah pelanggan tetap HD (paling sedikit 3 kali dalam sepekannya).

Ekspresi mereka beragam. Ada yang sambil bersenda gurau bersama keluarganya; ada yang terkulai lemas memandang dengan tatapan kosong ruang di sekelilingnya sambil sesekali merintih kesakitan; ada pula yang tak berekspresi sama sekali, diam dengan mata tertutup 'menikmati' proses HD yang merupakan rutinitasnya.

Ada sesuatu yang menarik dari bed 4 di sebelah kananku. Di bed itu, seorang nenek kira-kira 60 tahunan dengan nasal kanul di hidungnya sedang menjalani proses HD ditemani oleh seorang laki-laki yang sebaya atau mungkin lebih tua darinya, pikirku mungkin laki-laki berpeci hitam itu adalah suaminya. Hal menarik buat aku adalah betapa setianya kakek itu mendampingi istrinya yang sedang di HD (HD itu lamanya 4jam-an). Sesekali si kakek mengusapkan minyak kayu putih di kaki juga jidat si nenek, memberi minum juga cemilan. Mereka hanya berdua tanpa anak ataupun cucu yang menemani. Rasa haru lantas menyeruak dalam dada ini...banyak pertanyaan yang berlalu lalang dalam pikiranku...(teringat ayah juga bunda yang saat ini pun telah lanjut usianya) hatiku bergumam "setega itukah sanak keluarga kakek-nenek itu?" tapi cepat-cepat kuhalau dengan lebih dari 1 husnudzon...huhhfff...astagfirullah.

Jam di ruangan ini menunjukkan pukul 17.30 wita...kira-kira masih 1 setengah jam lagi aku standby di ruangan ini. Dalam diam banyak syukur yang teruntai (masyaAllah nikmat sehatMu teramat mahal ya Rabb), banyak harap yang terpanjatkan padaNya. Sungguh..hidup dengan segala pernak-perniknya adalah nikmat sekaligus ujian buat diri-diri kita.
Read more ...

Ketika Saat Itu Tiba....

05 Mei 2009

Kelak, disuatu hari...

Kita semua akan dikumpulkan oleh Allah di Yaumul Hasyr...

Kita akan bertemu Rasulullah dan para sahabatnya serta Ummul Mukminin...

Kita akan bertemu para syuhada dan orang-orang shaleh sepanjang masa...

Kita akan bertemu dengan saudara-saudara kita dari Palestina, mujahidin Afghan, pejuang-pejuang Islam di Chechnya, Moro, Irak dan seluruh belahan dunia...

Kita akan berjumpa dengan anak-anak Palestina pelempar batu yang sangat ditakuti oleh Israel...

Kita akan bertemu dengan ibu-ibu Palestina yang tidak henti-hentinya melahirkan para mujahid...

Lantas Rasulullah pada hari itu akan sangat bangga pada ummatnya...

Lalu...bagaimana dengan kita ketika saat itu tiba...???

Tentu kita ingin ikut bersama rombongan Rasulullah...

Tetapi..mungkin kita akan malu...

Karena mereka kurang mengenali kita sebagai ummat Muhammad, sebab minimnya identitas dan tanda-tanda keislaman kita...

Terpikirkah tentang ini olehmu duhai sahabat?!


Kalau hari ini kau temui dirimu sebagai seorang muslimah pemalu, sebagai wanita-wanita mahal...

Jika hari ini kita memeluk tarbiyah dengan erat, lalu ada amanah bersama kita...

Jika hari ini kita adalah seorang aktivis, da'iah, para pelaku da'wah, penyeru kebaikan dan pengusung shahwah...

Jika kau jumpai dirimu sebagai seorang murabbiyah, seorang pemimpin..maka tersenyumlah dengan semua itu...

Berbanggalah karena mungkin dengan itulah mereka akan mengenali kita...

Rasulullah pun tersenyum pada kita, lalu mengajak 'tuk singgah di telaganya yang tenang..itulah telaga Al-Kautsar.....

Jazakillah khair saudariku...semoga Allah memudahkan segala urusanmu^^



Read more ...

SMS gratis!

Klik di sini!
free counters