. wisecorner: bulan syawal
Tampilkan postingan dengan label bulan syawal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bulan syawal. Tampilkan semua postingan

Hari Pertama di Madrasah....

17 September 2011


Alhamdulillah...akhirnya setelah cukup lama menanti, tadi pagi saya mulai menjalani aktivitas baru di Kota Nabi tercinta ini. Setelah beberapa bulan sebelumnya dibantu zauji ngurus-ngurus pendaftaran dan menanti telepon dari madrasah tempat saya belajar sebagai tanda bahwa saya telah diterima hingga beberapa tahun kedepan, insyaAllah.

Ga jauh beda sama anak-anak yang baru masuk sekolah, pagi tadi saya pun diantar ke madrasah dan ditungguin sampai bel pulang berbunyi. Hehehe....bukan manja, bukan sulap (ga nyambung), tapi karena di negara ini kaum wanitanya tidak dibiarkan kemana-mana sendiri kecuali bersama mahram atau teman-teman wanita lainnya (untuk kondisi ini jika tidak dalam rangka safar). 

Madrasahnya ga jauh dari rumah. Yah...sekitar 7menitan lah naik mobil sudah sampai. Nama madrasahnya Madrasatunnisaa Tabi'ah Lirrabithah Al'alam Al Islami

Jadi untuk hari pertama sekolah, zauji dengan setia menanti di depan pagar madrasah yang menjulang tinggi. Alhamdulillah ada seorang ikhwa asal Cina yang kebetulan pernah berkenalan dengan zauji saat zauji mengantar saya ke mustasyfa jami'ah beberapa waktu yang lalu, yang pagi tadi juga sedang menanti istrinya yang mengurus kelulusannya dari madrasah tersebut, masyaAllah...baarakallahufiiha!

Di madrasah ini ada 7 mustawa. Paling dasar itu mustawa ta'sisi yah seperti kelas persiapan bahasa-lah begitu. Dan saya bersama Kak Karimah masuk dalam kelas tsb. Kalo saya memang sengaja dari zauji yang minta sama mudirahnya agar saya ditempatkan di kelas persiapan bahasa...hehehe, berhubungan bahasa Arab saya masih sangat perlu dibenahi. 
Jumlah murid dalam mustawa ta'sisi ada 33 orang, tapi yang datang tadi pagi ga sampai 20an orang, mungkin karena hari pertama kali yah..jadi disangkanya belum ada pelajaran jadi belum pada mau datang. Ya sudahlah...
Di antara teman-teman di mustawa ta'sisi yang sempat hadir itu ada yang dari Rusia, Magribi, Maladives, dan Maroko. Tadi kami sudah sempat belajar qira'ah yang diajarkan oleh mua'alimah zainab. Di mustawa ini, dengar-dengar (soalnya belum ada kabar resmi dari mu'alimah-nya) ada 3 maddah, 2 diantaranya itu bahasa Arab dan qira'ah, yang satunya lagi lupa.
Kelas kami ada di lantai 3 gedung madrasah. Selain itu, ada juga tempat penitipan anak bagi para thalibah yang punya anak dibawah usia 5tahun, seperti play group gitu.

Pakaian seragamnya itu kemeja putih dan rok hitam. Jadi pas dah masuk gerbang, abaya, purdah dan jilbab yang kita pake dibuka lalu kita masuk ke gedung madrasah dengan pakaian yang sudah ditetapkan tsb. Plus aturan ga boleh bawa hape kamera. Kalo ditanya kenapa ga boleh? Mungkin nih...sebab para mu'alimah dan thalibahnya masyaAllah cantik-cantik bahkan ada yang ga pake jilbab, jadi khawatir kalo ada yang ambil gambar trus dipublish kan bisa jadi aib tuh...makanya para thalibahnya dilarang bawa hape kamera.

Setelah mustawa ta'sisi, ada mustawa awal, tsani, dan seterusnya hingga mustawa sittah. Masing-masing mustawa' lama belajarnya 3 bulan. Yah...saya berharap saya bisa melalui setiap mustawa dengan baik agar kelak apa yang saya dapatkan bermanfaat buat saudari-saudari saya yang lain..aamiin.

Di madrasah ini, sepengetahuan saya, yang dari Indonesia hanya 3 orang, saya, Kak Karimah dan Kak Nisa (dari Makassar juga) beliau ini sudah mustawa' 5..insyaAllah bentar lagi lulus..aamiin.

Awalnya (dengar dari Kak Nisa langsung) hanya istri thullab jami'ah islamiyyah saja yang bisa bersekolah di madrasah ini, namun belakangan orang umum pun bisa bersekolah juga di madrasah tsb.

InsyaAllah mulai besok saya sudah ga diantar lagi sama zauji ke madrasah, sebab sudah ada bus madrasah yang akan menjemput dan mengantar para thalibah.

Akhirnya...mudah-mudahan apa yang saya jalani hari ini benar-benar dapat bermanfaat buat diri saya pribadi dan orang lain...aamiin.
Ma'annajah!!!
Read more ...

~ Haram Nabawi Ba'da Ramadhan ~

12 September 2011

Bulan di langit Madinah dilihat dari depan Bab Sultan Abdul Majeed (bab no. 16)

Ba'da Ramadhan Haram Nabawi semakin hari semakin lenggang. Apalagi malam ini, saya sempat terheran-heran...hehehe.... Sangat jauh berbeda ketika Ramadhan terlebih lagi di 10 malam terakhirnya.

Salah satu bab Umar bin Khattab (bab no. 17a)

Bagaimana tidak?? Dulu ketika Ramadhan (apalagi di 10 terakhirnya) sudah merasa bsyukur sekali jika bisa masuk ke dalam masjid  (kadang ga bisa masuk karna jama'ahnya sudah mencapai pintu masuk, maka para harisah menyuruh untuk shalat saja di teras masjid), meski duduknya cukup dempet-dempetan muka-belakang samping kanan-kiri dengan jama'ah lainnya itupun bukan di tempat shalat seperti biasanya, tapi di bagian tempat 
biasanya orang berlalu lalang (yang untuk saat itu saja difasilitasi pembatas dari tali plastik yang diikat oleh harisah pada tiang-tiang   kecil).

Dan mesti ekstra lapang dada sebab tempat yang sudah seadanya itu terkadang pas lagi shalat dilalui oleh jama'ah lainnya yang lewat di depan/samping kita seadanya aja tanpa tabe'-tabe' (permisi : istilahnya orang Makassar) alias asal terobos saja.

Belum lagi ada jama'ah di bagian belakang yang 'hobby' nyuruh maju-maju ke depan. Padahal kepala kita aja kalo pas sujud sering kena kaki orang di depan. "Subhanallah...ma'alays ummi maa fii makan qiddam, syufti!" Dan kesabaran memang benar-benar teruji..~senyum~

Tapi...malam ini (dan beberapa malam setelah Ramadhan berlalu) suasana Haram Nabawi sangat cukup lenggang (hampir sama keadaannya saat saya pertama kali mengunjungi Masjid Rasulullah ini). Subhanallah! Asli! Benar-benar sangat berbeda!

Dengan kondisi yang sangat cukup lenggang ini terserah kita deh mau pilih duduk dimana, mau guling-gulingan hayuk! (hehehe..hiperbola! ga direkomendasikan yah). Mau minum zam-zam sampai berkali-kali juga silakeun ...monggo..ga perlu takut kehabisan (secara kalo lagi rame, telat dikit kehabisan...hehehe).
Dan..subhanallah! Suasana di dalam masjid menjadi begitu sangat dingin!

Di hari-hari di bulan Ramadhan dan musim haji, semua pintu Masjid Nabawi akan tetap terbuka selama 24jam, tapi di hari-hari biasa hanya pintu no. 25 (Bab Utsman bin Affan) yang dibuka selama 24 jam sebab pintu tsb adalah akses menuju ke Raudhah. 











Tidak lama lagi Haram Nabawi akan dipenuhi lagi oleh manusia yang berasal dari segala penjuru dunia, insyaAllah mulai awal bulan 11 (Dzulqa'dah) penanggalan Hijriyah atau awal bulan 10 (Oktober) penanggalan Miladiyah. 



Saat itu adalah musim haji (hingga pertengahan bulan Dzulhijjah), saat dimana hampir seluruh manusia dari segala penjuru dunia yang berbeda warna kulit, bahasa dan adat kebiasaan tumpek blek di dua Tanah Suci (Haramain) untuk menunaikan rukun Islam yang ke-5. Semoga saya pun diberikan kesempatan untuk menunaikan ibadah haji di tahun ini. Aamiin.


                                                                                
Bab Utsman bin Affan (bab no. 25). Suasana setelah shalat tarawih.



Ba'da maghrib fii Haram Nabawi, 12 Syawal 1432H 
Read more ...

Keutamaan Puasa Enam Hari Syawal




Abu Ayyub al-Anshari radhiallaahu 'anhu meriwayatkan, Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun." (HR. Muslim).

Imam Ahmad dan an-Nasa'i, meriwayatkan dari Tsauban, Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Puasa Ramadhan ganjarannya sebanding dengan (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan (puasa) dua bulan, maka bagaikan berpuasa selama setahun penuh." (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hubban dalam "Shahih" mereka)

Dari Abu Hurairah radhallaahu 'anhu, Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa berpuasa Ramadhan lantas disambung dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia bagaikan telah berpuasa selama setahun." (HR. al-Bazzar)

Pahala puasa Ramadhan yang dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal menyamai pahala puasa enam hari penuh, karena setiap hasanah (kebaikan) diganjar sepuluh kali kelipatannya, sebagaimana telah disinggung dalam hadits Tsauban di muka.

Membiasakan puasa setelah Ramadhan memiliki banyak manfa'at, di antaranya:

1. Puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan, merupakan pelengkap dan penyempurna pahala dari puasa setahun penuh.

2. Puasa Syawal dan Sya'ban bagaikan shalat sunnah rawathib, berfungsi sebagai penyempurna dari kekurangan, karena pada hari Kiamat nanti perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan (dilengkapi) dengan perbuatan-perbuatan sunnah. Sebagaimana keterangan yang datang dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam di berbagai riwayat. Mayoritas puasa fardhu yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan ketidaksempurnaan, maka hal itu membutuhkan sesuatu yang menutupi dan menyempurnakannya.

3. Membiasakan puasa setelah Ramadhan menandakan diterimanya puasa Ramadhan, karena apabila Allah Ta'ala menerima amal seseorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya. Sebagian orang bijak mengatakan, "Pahala amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya." Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan sesuatu kebaikan lalu diikuti dengan yang buruk, maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.

Puasa Ramadhan -sebagaimana disebutkan di muka- dapat mendatangkan maghfirah atas dosa-dosa masa lalu. Orang yang berpuasa Ramadhan akan mendapatkan pahalanya pada hari Raya Iedul Fithri yang merupakan hari pembagian hadiah, maka membiasakan puasa setelah Iedul Fithri merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat ini. Dan sungguh tak ada nikmat yang lebih agung dari pengampunan dosa-dosa.

Oleh karena itu termasuk sebagian ungkapan rasa syukur seorang hamba atas pertolongan dan ampuan yang telah dianugerahkan kepadanya adalah dengan berpuasa setelah Ramadhan. Tetapi jika ia justru mengggantinya dengan perbuatan maksiat, maka ia termasuk kelompok orang yang membalas kenikmatan dengan kekufuran. Apabila ia berniat pada saat melakukan puasa untuk kembali melakukan maksiat lagi, maka puasanya tidak akan terkabul, ia bagaikan orang yang membangun sebuah bangunan megah lantas menghancurkannya kembali. Allah Ta'ala berfirman, "Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai lagi." (QS. an-Nahl: 92)

5. Dan di antara manfa'at puasa enam hari di bulan Syawal adalah amal-amal yang dikerjakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya pada bulan Ramadhan tidak terputus dengan berlalunya bulan mulia ini, selama ia masih hidup. Orang yang setelah Ramadhan berpuasa bagaikan orang yang cepat-cepat kembali dari pelariannya, yakni orang yang baru lari dari peperangan fi sabilillah lantas kembali lagi. Sebab tidak sedikit manusia yang berbahagia dengan berlalunya Ramadhan, sebab mereka merasa berat, jenuh dan lama berpuasa Ramadhan.

Barangsiapa yang mereka demikian maka sulit baginya untuk bersegera kembali melaksanakan puasa, padahal orang yang bersegera kembali melaksanakan puasa setelah Iedul Fithri merupakan bukti kecintaannya terhadap ibadah puasa, ia tidak merasa bosan dan berat apalagi benci.

Seorang ulama Salaf ditanya tentang kaum yang bersungguh-sungguh dalam ibadahnya di bulan Ramadhan tetapi jika Ramadhan berlalu mereka tidak bersungguh-sungguh lagi, beliau berkomentar, "Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal Allah Ta'ala secara benar kecuali di bulan Ramadhan saja, padahal orang shalih adalah yang beribadah dengan sungguh-sungguh di sepanjang tahun."

Oleh karena itu sebaiknya orang yang memiliki hutang puasa Ramadhan memulai membayarnya di bulan Syawal, karena hal itu akan mempercepat proses pembebasan dirinya dari tanggungan hutangnya. Kemudian dilanjutkan dengan enam hari puasa Syawal. Dengan demikian telah melakukan puasa Ramadhan dan mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal.

Ketahuilah amal perbuatan seorang mukmin itu tidak ada batasnya hingga maut menjemputnya. Allah Ta.a'a berfirman, "Dan sembahlah Tuhan-mu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)." (QS. al-Hijr: 99)

Dan perlu diingat pula bahwa shalat-shalat dan puasa serta shadaqah yang dipergunakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala pada bulan Ramadhan adalah disyari'atkan sepanjang tahun, karena hal itu mengandung berbagai macam manfaat, diantaranya; ia sebagai pelengkap dari kekuarangan yang terdapat pada fardhu, merupakan salah satu faktor yang mendatangkan mahabbah (kecintaan) Allah kepada Hamba-Nya, sebab terkabulnya doa, demikian pula sebagai sebab dihapuskannya dosa dan dilipatgandakannya pahala kebaikan dan ditinggikannya kedudukan.

Hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan, shalawat dan salam semoga tercurahkan selalu keharibaan Nabi, segenap keluar dan sahabat beliau.

Sumber: Risalah Ramadhan, Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim al-Jarullah.-alsofwah.or.id-

Repost from : http://www.wahdah.or.id/
Read more ...

SMS gratis!

Klik di sini!
free counters